Batin Hening Kunci Perubahan Total

Resensi buku di Majalah mingguan HIDUP edisi 21 Februari 2010

Judul : Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial
Penulis : J. Sudrijanta, SJ
Penerbit : Kanisius, 2009
Tebal : 304 halaman

Kondisi batin seseorang dapat membawa pengaruh besar bagi lingkungan sekitar. Namun kenyataannya, kini berbagai bentuk kejahatan dan eksploitasi semakin canggih, krisis dan kerusakan yang ditimbulkan lebih masif dan dahsyat; semua ini membuktikan batin manusia tidak sungguh berubah setelah sekian juta tahun mendiami bumi.

Karena itu, sang penulis buku – pastor Yesuit yang pernah mendalami spiritualitas Ignatian dan meditasi Vipassana di Sri Lanka empat tahun silam – menyarankan, jika ingin mengubah wajah bumi, terlebih dahulu kita perlu mengubah batin kita secara total. Batin yang kacau karena tercemar berbagai pikiran dan perasaan sebagai akumulasi pembelajaran dan pengalaman yang disimpan dalam memori otak manusia, perlu ditata dengan mengikis habis segala kekacauan itu, hingga kita mencapai titik hening. Di titik hening inilah dimensi diri kita (self) pudar. Kalau diri telah berakhir, sesuatu yang kudus mungkin akan tampil dan menggerakkan tindakan kita secara baru di tengah dunia.

Buku yang memuat 50 tulisan percikan perenungan sang gembala umat sebuah paroki di Jakarta ini mengajak kita berolah batin, menyadari apa yang pernah kita alami namun belum kita sadari sepenuhnya seperti memahami rasa sedih, menyingkap tirai penderitaan, memahami rasa terluka, kesepian dan kesendirian, bebas dari rasa takut, nyala api cinta, seks dan kasih sayang, damai di tengah konflik, hingga energi kreatif kehidupan, mengenal roh kebenaran, berjalan ke rumah abadi, dan menembus realitas terakhir.

Dalam salah satu tulisan diulas tentang meditasi tanpa objek sebagai sarana untuk sampai pada titik hening. Yang dilakukan pemeditasi hanyalah duduk diam dengan batin hening, menyadari keberadaan saat sekarang, mengamati segala sesuatu yang datang dan pergi tanpa tebang pilih, memberi perhatian terhadap segala sesuatu apa adanya (hal. 131).

Meditasi tanpa objek tidak menempatkan Kristus sebagai objek meditasi, melainkan sebagai model. Melalui meditasi ini kita masuk pada kesadaran diri kita yang berakar-dalam pada Kristus, Bapa, dan Roh Kudus. Hakikat Kristus atau Hakikat Ilahi yang merupakan keberadaan kita yang paling dalam dapat kita rasakan keberadaannya pada saat kita mencapai titik hening.

Menurut mantan Direktur Institut Sosial Jakarta dan Jesuit Refugee Service ini, kebanyakan orang berpikir bisa berubah pelan-pelan, secara bertahap. Orang berkata waktulah yang akan menyembuhkan atau segala sesuatu akan menjadi baik seiring berjalannya waktu. Namun, adalah kekeliruan fatal kalau kita berpikir perubahan batin itu sama seperti evolusi fisik.

Revolusi batin hanya mungkin terjadi di luar waktu. Ia ditemukan dari saat ke saat, bukan penerusan atau perluasan dari sebelumnya. Ia mungkin terlahir kalau kita berdiam bersama fakta, bukan sibuk dengan yang bukan-fakta. Belajar untuk memahami fakta bukan dengan mengumpulkan pengetahuan lalu mendisiplinkan diri, tetapi memandangnya tanpa jarak, serta hidup bersamanya tanpa waktu, tanpa beban ingatan masa lampau, dan tanpa proyeksi ke masa depan. Selama masih ada perjuangan, pergulatan, dan daya upaya, di sana kita masih berada dalam rentang waktu (hal. 288).

Masa lampau (kenangan pahit atau kenangan manis)
bukanlah Aku
Aku bukanlah masa lampau
Aku tidak terjebak pada masa lampau

Masa depan (bayangan buruk atau bayangan baik)
bukanlah Aku
Aku bukanlah masa depan
Aku tidak terjebak pada masa depan

Aku yang tidak berbeda dari gerak pikiran dan waktu
bukanlah Aku Sejati
Aku yang sesungguhnya berada di luar waktu

Saat sekarang adalah arus di luar waktu
Saat sekarang Aku telah lengkap dan sempurna
Aku hidup dalam Kepenuhan, DALAM Kristus Tuhan.

Maka, perubahan yang sesungguhnya tidak datang dari gagasan, sistem ideologi, teori, tetapi dari pemahaman diri secara total. Yang jadi pertanyaan sekarang, bukanlah apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah dunia, tetapi bisakah kita hidup betul-betul berbeda dari hari kemarin? Bisakah kita mengalami perubahan radikal dari batin yang kacau menjadi batin yang tertib, suatu revolusi batin seketika? Kalau batin tertib, mungkin akan ada ketertiban di luar, sebab perubahan struktural dalam batin akan mengubah lingkungan pengaruh hidup kita dan menembus struktur-struktur sosial di luar.

Meskipun nuansa kerohanian Katolik tampak dalam tulisan-tulisan di buku ini, namun dalam Kata Pengantar-nya sang penulis menyatakan buku ini bukan panduan meditasi menurut doktrin Katolik, melainkan pencarian bersama yang ditulis dalam konteks multi-religius.

Saya mengajak Anda berjalan bersama melampaui semua doktrin, melakukan penyelidikan bersama atas berbagai pertanyaan tentang kematian dan kehidupan, manusia dan dunia, Allah dan kebenaran yang tidak pernah ada jawaban pastinya (hal. 12).

Lebih jauh penulis menyatakan, buku ini tidak untuk mendapatkan kepastian intelektual dan tidak cocok untuk mereka yang merasa telah menemukan kebenaran serta meyakini kebenaran tersebut sebagai satu-satunya pedoman hidup. Namun, buku ini dipersembahkan bagi para pencari, yakni orang-orang yang dengan rendah hati mau mempertanyakan kembali seluruh fondasi kerohanian yang membuat mereka aman, berani menghadapi kegelisahan sendiri tanpa berlari mengejar kepastian rumusan kebenaran, serta terbuka terhadap penyelidikan melampaui batas-batas pikiran.

Kini tergantung bagaimana persepsi Anda setelah membacanya. Mungkin Anda akan mencap pandangan-pandangan dalam buku ini tidak Katolik, berbau new age, anti-agama; atau Anda malah menemukan pencerahan batin yang bermakna dan relevan untuk menjawab berbagai tantangan hidup. Silakan Anda tentukan sendiri.* (Cendrawati Suhartono)

One Response to “Batin Hening Kunci Perubahan Total”

  1. “Buku yang perlu dibaca bagi mereka yang ingin memahami diri secara total dan bertindak/perilaku berdasarkan persepsi murni, bukan berdasarkan pengalaman/kebiasaan masa lalu.
    Revolusi sosial hanya bisa bisa terjadi bila batin mengalami perubahan radikal bukan perubahan secara bertahap alias pelan-pelan dan buku ini cocok bagi semua yang mau mengevaluasi kembali kehidupan rohani yang dijalani selama ini sehingga batin ini bisa tidak kacau menghadapi segala tantangan/hambatan, mencapai tujuan tanpa mengejarnya yang pada akhirnya batin bisa mengalami pencerahan.”

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>