Baru setahun menikah, penuh kekerasan
saya ibu rumah tangga yg menikah pd januari 2009. walaupun sy termasuk baru, tapi mengapa problem yg sy rasakan amat berat sekali.
dlm rumah tangga sy penuh kekerasan. apa yg sy terima dari kekerasan suami sy entah itu ditonjok, tampar, ditendang, dijambak, didorong dari tempat tidur, dicekek dsb. itu saya rasakan bisa 2/3 kali dlm sbulan.. dia ( suami sy ) org yg penuh emosi, egonya sngt besar sx & tanggung jwbnya yg kurang.
sy lebih merasa diperlakukan seperti pembantu yg sll melakukan kewajibannya & seperti binatang yg tidak dihargai. sy sgt sedih & kecewa terlebih krn sy tidak boleh brkomunikasi dg orgtua kandung sy.
kl sedang marah seperti org kerasukan setan padahal masalahnya kecil..padahal saya terpaut lebih muda 6 tahun lebih, tetapi ia sll berfikiran sprti anak kecil. terkadang sy suka berfikir untuk kabur & kembali kerumah org tua sy, karena saya berfikir apabila saya tetap tinggal sama dia (suami sy) saya bisa mati ditangannya.. malah terkadang saya berfikir untuk bunuh diri..
sy sudah cukup sbr terhadap semua tingkah lakunya. terlebih saya sudah cukup sbr menahan rsa skit hati yg mendalam setelah tau kl dia sll berbohng kepada sy sejak 2 tahun berpacaran & baru ketauan setelah saya menikah, sungguh sakit rasanya..
apakah sy harus tetap satu rumah dg suami sy ?? bagaimana sy nnti kl sy tetap satu rumah dg dia.. mungkin bisa sakit jiwa bahka mati ditangannya.. saya minta saran dari romo..
saya bingung sekali harus bagaimana lg..
thx romo
GBU
F







Ibu Farah yang baik,
Saya ikut prihatin dengan apa yang Ibu alami dalam usia pernikahan yang masih sangat muda. Saya usulkan untuk bertemu langsung dengan pastor paroki membicarakan persoalan Ibu agar jelas duduk perkaranya dengan seluruh konteksnya. Di Gereja biasanya ada tim yang dapat mendampingi penyelesaian masalah seperti yang Ibu alami.
Salam dan doa
Rm Ardi
Ibu F,
Pertama, jangan mikir bunuh diri dulu deh. Mari kita pikirkan bagaimana hidup dalam damai dengan suami.
Pertanyaan saya:
Mengapa suami ibu selalu kasar? apakah sebetulnya dia aslinya kasar tapi ibu baru tau sekarang (dulunya dia berhasil mengelabuhi ibu, selama pacaran tampaknya manis eh ternyata kasar)? atau ada sesuatu yang menyebabkan sekarang dia kasar?
Baiknya Ibu melakukan pengecheckan terhadap Ibu mertua dan saudara saudara perempuannya. Seandainya ibu belum menikah tentu pengecheckan baiknya dilakukan sebelum nikah. Tapi toh sudah telanjur ya silakan check mereka.
Bila sudah dari sononya dia kasar tentu penangannya akan lebih sulit, ibarat pohon dia sudah terbentu. Tapi kalo dulu dia baik, lalu sekarang kasar (maaf, saya kurang bisa mengerti apa yang ibu maksud dia bohong 2 tahun itu) ya selesaikan saja masalahnya.
Kalo baca kesadisannya, kelihatannya kalian memang memerlukan orang ketiga untuk jadi penengah. Romo boleh saja. Seksi Keluarga di Paroki juga boleh saja. Tapi, apa suami mau diajak menghadap mereka?
Kalo kelihatannya akan lebih manjur kalo orang ketiga adalah orang yang ditakutinya, silakan cari tokoh tersebut. Misal Bapaknya, atau oomnya, orang dituakan dan didengar olehnya. Cenderung lelaki karena kelihatannya orang seperti suami anda tidak menghargai perempuan.
Yang ideal adalah konselor psikologis yang bisa mendampingi kalian berdua. Tapi, yang extrim, kalo psikolog gagal, adalah bila bisa menjadikan seorang polisi sebagai penengah. yaaa… sapa tau ibu punya kenalan ato sodara polisi. Pertama, pasti dia takut dong sama polisi. Kedua, kalo ibu diperlakukan kasar lagi ibu memang harus lapor polisi.
Ini saya beritahu caranya memperkarakan suami ibu:
1. Saat terjadi pemukulan yang sampai terluka, berteriaklah sehingga ada saksi dari KDRTnya;
2. Segera setelah itu pergilah ke dokter untuk membuat visum;
3. Laporkan ke polisi jadikan itu perkara pidana.
Jahat ya kalo menjalani langkah yang disebut di atas?
masih tidak tega?
masih sayang sama suami?
Itu bagus.
Sebelum sampai di langkah itu, silakan develop suami ibu (dan ibu sekalian) dengan bantuan ahli, psikolog. Mungkin tidak usah sampai harus urusan polisi. Mengapa saya menganjurkan agar Ibu juga mesti didevelop psikolog, itu kiranya ibu perlu menjadi sepadan dengannya yakni hendaknya ibu juga menbangun pribadi yang tidak mudah diperlakukan kasar oleh orang lain termasuk suami.
ada orang yang memang mudah diperlakukan kasar, yakni orang yang permisif diperbuat semaunya oleh orang lain. ada juga orang yang kalo orang lain mau kasar ya harus pikir 1000x. Bangunlah pribadi yang harus dihormati sedemikian sehingga suami kalo mau KDRT juga mikir dulu,”Janganlah aku nonjok dia, istriku itu kan baik tapi juga harus aku hormati”
Selamat berjuang melindungi diri.
Ingatlah Tuhan mau agar ibu mengasihi diri ibu sendiri juga selain mengasihi orang lain.
Selamat berjuang mempertahankan perkawinan. Ingatlah Tuhan juga ingin agar kita setia walaupun ada banyak tantangan.
salam, rin
@ibu F,
Dalam keadaan yang dapat membahayakan jiwa raga anda, anda diperkenankan untuk berpisah (tidak tinggal serumah) dengan suami anda. Namun sebaiknya perpisahan ini dilaporkan ke pastor paroki setempat.
Di beberapa topik saya cukup banyak mengulas panjang lebar mengenai hal ini (coba ke http://gerejastanna.org/pernikahan-dan-perceraian-menurut-iman-katolik/ – lalu search dengan kata kunci “kekerasan” pada halaman tsb.).
May God bless your steps, protect you and give you strength
sesungguhnya dari pacaran memang dia ( suami saya sudah kasar ) & sudah sering kali pula saya mendapat perlakuan serupa .bahkan ia tidak kenal tempat dimana pun ia bisa berbuat kasar . pernah di pinggir jalan raya & di mall . tapi tidak tau mengapa saya tetap sayang & tetap ingin bersamanya & dengan mudah sekali saya memaafkannya & melupakan masalah itu kemudian tersenyum kembali . saya pernah diceritakan oleh ayahnya bahwa memang ia ( suami saya ) sudah bertingkah kasar oleh adiknya . padahal ayah / ibunya tidak pernah memukul dia . ayahnya juga menyarankan untuk melaporkannya kepolisi bila saya masih diperlakukan serupa . tapi , berat rasanya .. saya berniat dalam diri saya untuk memilih tinggal dirumah orang tua saya bila saya sekali lagi diperlakukan kasar lagi tapi saya pun masih bingung , apakah dengan demikian saya bisa menyelesaikan masalah atau hanya menambah masalah ..
tolong sarannya ..
thx ..
GBU ..
Ibu Farah yang terkasih,
Karena sejak pacaran suami ibu sudah memperlihatkan tabiatnya yang asli, tentunya ibu sudah bisa membayangkan seperti apa kira-kira perilaku pacar ibu setelah resmi menjadi suami.
Ibu Farah tidak perlu menyesali keputusan yang telah ibu ambil dengan menjadikannya sebagai suami. Bersyukur bahwa ibu adalah seorang pengampun, hal ini sangat penting bagi langkah ibu ke depan. Bila sementara ini ibu mengambil keputusan untuk tinggal terpisah (di rumah orang tua) dalam rangka menghindari kekerasan bahkan keselamatan jiwa ibu itu adalah langkah yang baik, tapi hanya untuk sementara waktu saja. Saya mempunyai pengalaman berkomunikasi secara dekat dengan orang-orang yang bertabiat seperti suami ibu Farah, sebenarnya mereka juga menderita dengan kekurang mampuan mereka untuk mengendalikan diri. Meskipun faktanya mereka menyakiti pasangan/kerabat tapi tidak jarang kemudian mereka menangis, menyesal & minta maaf. Namun kemudian diulang lagi, mereka gagal untuk menguasai diri meskipun kadang-kadang pencetusnya hanya masalah sepele.
Kita tidak dapat mengubah orang lain, yang dapat kita lakukan adalah memberikan wahana bagi orang lain untuk mengubah diri. Meskipun tinggal terpisah, tetaplah berkomunikasi, dalam keadaan biasa (tidak sedang marahan) sampaikan dengan kasih bahwa ibu mencintai dia. Kepergian ibu adalah untuk menenangkan diri dan masing-masing melakukan refleksi diri. Bawalah masalah ibu dalam doa, mohon kekuatan dan hikmat dari Tuhan agar ibu mampu melaksanakan peran yang menjadi bagian ibu dengan “benar”.
Polisi tidak akan mampu mengubah tabiat suami ibu, dia akan menjadikan suami ibu lebih “kejam” karena merasa dimusuhi & disingkirkan. Ibu mengatakan………”tapi tidak tahu mengapa saya tetap sayang & tetap ingin bersamanya………..” itu berarti bahwa suami ibu mempunyai sisi baik yang layak untuk ibu kasihi.
Ada kalanya seseorang mendapatkan pasangan “sebuah produk yang sudah jadi”, mapan secara ekonomi dan berperilaku baik. Namun tidak jarang orang mendapatkan pasangan yang masih “bahan baku”, atau “produk setengah jadi”, diperlukan perjuangan yang melelahkan untuk mengubah “bahan baku” atau “produk setengah jadi” menjadi “produk jadi yang sempurna”. Jangan putus asa ibu Farah, usia perkawinan ibu masih sangat muda, pasangan yang suaminya tidak ringan tanganpun pada usia perkawinan yang sedemikan sering terjadi cekcok, dari yang ringan sampai yang serius. Jadikanlah masa pisah rumah ini sebagai moment untuk menyatakan kasih….., kasih yang mencari solusi agar hati suami ibu terketuk dan bersungguh-sungguh untuk mengubah diri, perasaan bahwa dia “diterima” akan sangat membantu.
Saya ingin menceritakan pengalaman seorang kawan (sebut saja A) yang pada awalnya sangat pemberontak, nakal namun dengan pertolongan Tuhan sekarang ybs telah berubah dan menjadi aktivis rohani yang cakupannya cukup luas.
A bersekolah di sekolah Katolik yang tiap akhir tahun ajaran selalu mengadakan retret bagi para siswa/siswi. Pada awalnya A menolak untuk ikut serta dalam retret, namun mempertimbangkan bahwa A adalah anak “nakal, bandel, pemberontah” pihak sekolah mengarahkan agar A ikut. Dalam sesi terakhir pada retret tersebut, diadakah rekonsiliasi, antar kawan, murid & guru, murid & orang tua (meskipun orang tua tidak hadir). Pada sesi ini A menangis meraung-raung, ternyata dia mengalami kepahitan dengan orang tuanya, dia adalah produk “broken home”. Kemudian pembimbing retret mengajak A untuk mengampuni orang tuanya. A diajak berdoa mohon pertolongan Tuhan agar memberikan kuasa pengampunan. Puji Tuhan, pulang dari retret A pulang menjadi A yang baru, tangan Tuhan telah menjamah hati A dan melembutkannya. A mulai tertarik pada komunitas rohani anak muda, sekian tahun telah berlalu A telah menjadi pelayan Tuhan, mendampingi anak-anak yang bermasalah seperti dirinya dulu.
Ibu Farah, Tuhan telah memberikan “bahan baku” atau “produk setengah jadi”, ibu perlu mengolahnya, tentu dengan pertolongan Tuhan. Tetaplah bersyukur dalam segala hal, ibu Farah akan melihat, Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
Selamat berjuang ibu Farah, Tuhan memberkati keluarga ibu
Bu Farah,
Mari kita pelajari, apa bagusnya apa jeleknya pisah rumah dari suami:
1. Mungkin memang suami akan kangen ibu karena pisah;
tapi ada kemungkinan juga suami jadi punya alasan untuk bilang,”Kamu berani keluar rumah meninggalkan saya. Sudah, tidak usah kembali!”
2. Kalo suami jadi kangen dan menjemput ibu baik baik ke rumah ortu, mungkin ibu jadi punya power untuk bilang,”Kalo kamu mau aku kembali, berhentilah kasar!” Tapi suami mungkin juga tidak akan menjemput ibu dan bilang,”Kamu pergi sendiri, ngapain aku njemput kamu? Mending aku njemput ceweq lain d!”
3. Memang tidak pernah ada larangan untuk pisah rumah, tapi menurut saya yang paling utama adalah menyelesaikan perkaranya. Bukan lari. Kalo ibu lari, suami akan punya semangat mengejar lalu menghajar. Tapi kalo ibu berani menghadapi, ada kemungkinan suami jadi jera.
Bu, selama ibu masih maunya tidak bercerai, buatlah diri ibu berkemampuan untuk setara dengan suami. Mampu setara itu artinya, ibu mampu membuat suami menghormati ibu. Lagi pula, suami ibu kan punya masalah, yakni sakit suka memukul. Ibu punya kesempatan untuk setia untuk menyembuhkan sakitnya. Ubahlah mindset bahwa ibu adalah korban (walau kenyataannya ibu memang korban aniaya), tapi ibu adalah subyek untuk menyembuhkan dia dari sakit suka memukul.
Carilah tau, mengapa dia punya penyakit kasar. Kalo ibu bapak, adik kakaknya tidak pernah kasar dan dia sendiri kasar, coba tanya ibunya kira kira apa sebabnya dia kasar. Ada anak yang sejak lahir memang kasar, motoriknya kasar, suaranya kasar, segalanya kasar. Mungkin kalo jaman wayang ya dia sebetulnya mestinya jadi anaknya buto ijo…. hehehehe…. naaa… bila anak yang demikian dididik ortunya dengan hardikan hardikan,”Hayo jangan kasar, hayo jangan mukul!” apa lagi kalo bapaknya mengantisipasi kekasarannya dengan kasar juga… ya dia mengira bahwa memang kasar itu benar, sehingga dimana pun dia kasar gpp aja. Terhadap suami yang telanjur memang demikianlah adanya ya ibu mesti memberi kebiasaan halus.
Waktu pacaran ibu kan sudah tau bahwa dia kasar dan ibu tetap memilih untuk menikah dengan orang yang kasar. Sebagai konsekwensi pilihan ya ibu sekarang mesti tanggung jawab untuk mendevelop suami bila ternyata sekarang ibu tidak tahan terhadap kekasarannya. Karena ibu kan gak bisa bilang,”O, saya tertipu, wong dia dulu waktu pacaran gak kasar koq.” wong ya nyatanya ibu sudah sedia jadi istrinya orang kasar. Kan memang ada bu, perempuan yang senangnya dikasari, misal Btari Durga istrinya Bima itu kan kalo disayang sayang oleh Bima ya dilempar-lemparkan. Orang seperti Btari Durga kalo punya suami seperti mo Sudri ya GAK BERASA asyiknya.
Ada beberapa usulan untuk develop suami yang kasar itu:
1. Ibu menyampaikan keberatan kepada suami atas sikap kasar suami. penyampaian pernyataan ini usahakan sebagai proses penyetaraan ulang, bukan sekedar pernyataan tapi pelaksanaannya ibu tetap di posisi kalah. Lakukan hingga memperoleh janji dari suami bahwa dia tidak akan kasar terhadap ibu. dalam proses inilah bila ibu tidak mampu sendiri ya mesti ada pendamping yakni orang ketiga yang saya katakan kali lalu. Boleh romo, boleh orang yang dituakan, boleh psikolog, boleh polisi.
2. Ibu melatih, membiasakan suami untuk berlaku lebih halus. Misal, dia mulai berkata kasar
“Hei, babi mana minumku!”
Ciumlah dia…”Hehehe… kasihan ya suamiku minta minum sama babi…” berilah minum lalu bilang lagi,”Ini dari Farah dengan penuh cinta!” (ini yang disebut ditampar pipi kiri berikan pipi kanan)
yang namanya membiasakan ya berarti ibu mesti juga berlaku halus terhadap dia, supaya dia tau bahwa perilaku itulah yang ibu minta darinya. Banyak diberi ciuman, banyak disapa halus, banyak diperlakukan baik, tapi di sisi lain ibu juga mesti memperlihatkan bahwa ibu bukan orang yang bisa seenaknya dia pukul.
Tentu treatmentnya beda kalo ternyata penyebab kebiasaan kasarnya itu beda. Maka, silakan konsultasi dulu dengan ibunya. Bangunlah kekuatan untuk mendevelop suami bersama keluarganya. Bayangkan kalo ada anak dan dia tetap kasar… whalah!
Selamat berjuang menyelamatkan diri dan menyelamatkan keluarga, dan bukan malah lari!
salam, rin
Nambah ya bu,
boleh juga kalo ibu mau mengajak suami untuk ikut retret Marriage Encounter. Mungkin suami ibu jadi sadar bahwa beruntunglah dia bisa dapat istri baik. jangan disia-siakan, jangan dipukuli.
soal retret ini saya tidak bisa cerita banyak karena saya juga belum pernah ikut. tapi saya bersahabat baik dengan rm Chris Purba moderatornya, saya yakin retret itu pasti menarik dan manfaat untuk diikuti. Kalo suami ibu tidak mau ya bilang saja ibu mentraktir dia untuk jalan jalan refreshing.
salam, rin
Ibu Farah , sy mau sedikit sumbang saran berdasarkan pengalaman2 saya, ibu coba kembali mempertahankan rumah tangga ibu , ada beberapa tip yg ingin sy utarakan :
– pada waktu suami pulang kerja usahakan rumah dalam keadaan rapi, ibu dan anak2 sudah mandi berpakaian rapi
– Suguhkan snack dan minuman hangat kesukaannya pada waktu dia pulang kerja
– jangan membicarakan hal hal yang membuat suami pusing atau tidak menyenangkan pada saat dia pulang kerja.
– pada saat2 tertentu ajak suami berbicara tentang hal halyg menyenangkannya, misalnya bila hobbynya membaca , coba bahas 1 topik bacaan untuk didiskusikan.
– pada saat suami mau berangkat kerja , siapakan sarapan pagi dan kebutuhan yg ia butuhkan dan hantarkan sampai dipintu dengan senyum penuh damai.
– ada satu yg penting,layanilah dia ditempat tidur dengan sebaik baiknya,puaskan dia, biasanya seorang suami kalau sd begitu dia akan merasakan damai dan pengalaman sy kalau mau minta sesuatu akan dituruti.
itu sedikit sumbang saran dari saya.
Bu farah, baiknya tidak usah ada kata ‘honney bunny’-an segala deh sekarang buat suami. Dia agama Katolik bukan? Panggil komunitas yang Bu Farah kenal. Lalu, baiknya paksa suami ibu ke gereja, segera!
Rusa,
hopo tumon….mana ada suami bisa dipaksa ke gereja?
Kebanyakan, orang tuh ke gereja ya ke gereja tapi mukul, judi, zinah, dosa ya jalan terus… hicks!
Suami yang suka memukul istrinya adalah suami yang gak nyambung antara sukacita bercinta dengan kendali amarahnya. Suami yang benar itu kan mestinya ya nyambung, e… kalo udah pernah merasa senang bersama honey bunny masa’ ya habis itu istrinya dipukul?!
Maka kalo memang mau mendevelop suami yang begitu ya harus dibuatkan sambungannya dulu. Sambungannya adalah menyadarkan dia bahwa istrinya adalah orang yang harus dikasihinya seperti Yesus mengasihi umat. Untuk itu perlu pembiasaan perilaku halus (untuk mengatakan bahwa dia memang dicintai), atau melalui serangkaian pembicaraan bisa berdua, bisa retret, bisa pake pihak ke 3.
salam, rin