Mengapa Bangga Menjadi Orang Katolik?

Oleh Stephanus K. Roeslan

Rumah makan di daerah penyangga Jalan Jenderal Sudirman ini cukup besar dan ramai pengunjung, terlebih pada saat jam makan siang seperti sekarang. Terlihat sekelompok anak muda, berseragam kantor yang sama memasuki pintu kaca yang otomatis membuka bila ada bayangan orang mendekatinya dan menutup sendiri setelah bayangan orang tersebut tidak tertangkap sensornya. Mereka duduk agak di pojok ruangan dan berbicara kepada pramusaji dengan sopan dan menanyakan ini dan itu sambil sesekali tertawa dan saling memandang di antara mereka. Setelah tanya jawab singkat itu, pramusaji meninggalkan mereka sambil membawa menu yang berukuran besar dan dilaminating plastic supaya rapih.

Tak lama makanan dan minuman yang mereka pesan pun datang. Para eksekutif muda ini pun kemudian sejenak saling pandang dan ngobrol. Dua orang cowok di antara mereka sesaat berkomat kamit sambil menundukkan kepala, sedangkan satu cowok lagi bersama dua orang cewek membuat tanda salib dan menundukkan kepala. Kelihatan mereka sedang berdoa makan. Sesuatu yang sudah agak jarang terjadi di kehidupan megapolitan Jakarta. Merekapun menyantap makanan dengan santai sambil ngobrol, ketawa ketiwi serta saling ledek satu dengan lain.

Pemandangan yang kelihatan sangat biasa-biasa saja di atas, membuatku merenung sesaat. Di antara belantara beton Jakarta, di antara hiruk pikuk manusia-manusia yang mementingkan capital dan di antara gaya hidup modern, masih ada ruang untuk melakukan ritual spiritual menurut agama masing-masing. Teman-teman yang membuat tanda salib di rumah makan dan di tempat umum lainnya, adalah para ‘misionaris’ awam, yang mewartakan kabar gembira dengan cara yang sangat sederhana. Mereka, dengan membuat tanda salib itu, sebenarnya sedang mengatakan kepada khalayak di sekitarnya “Aku orang Katolik” disadari atau tidak. Kelihatan sekali bahwa mereka bangga menjadi orang Katolik. Mereka tidak mengkristenkan orang lain, tidak mengkatolikkan orang lain, tetapi mereka mengkatolikkan diri sendiri, dan menyatakannya kepada khalayak umum. Mereka tidak mengajak orang lain menjadi Katolik, tetapi mereka ingin agar orang lain tahu, bahwa mereka adalah orang Katolik. Ini yang disebut missioner. Dan yang lebih membanggakan adalah bahwa mereka, anak-anak muda Katolik ini, berperilaku baik, sopan, dan orang lain mengenal orang Katolik sebagai orang yang jujur dan dapat diandalkan apabila mengelola keuangan.

Bangga Jadi Orang Katolik
Para eksekutif muda Katolik di Jalan Jenderal Sudirman yang diceritakan di atas tidak sendiri. Banyak umat Katolik, sejak dulu hingga sekarang, yang bangga menjadi orang Katolik. Bahkan ketika berkenalan pun mereka menyebut nama panggilan, yang adalah nama baptisnya, seperti Daniel, Bernadete, Markus, Maria, Yohanes, dsb. Penyebutan nama baptis sebagai nama panggilan, adalah juga merupakan tindakan missioner. Ketika nama ini disebut pada saat berkenalan dengan seseorang lain, sebenarnya dia sedang mengatakan “Namaku Daniel” (lanjutannya adalah: “Daniel adalah nama baptisku, jadi aku adalah orang Katolik. Kalau Anda ada masalah dengan kekatolikanku, ya sudah. Kalau tidak ada masalah, let’s go on doing business or whatsoever”)

Kebanggaan menjadi seorang Katolik dinyatakan oleh 83,48% responden yang disurvei pada tahun 2007 lalu di Paroki Santa Anna Duren Sawit. Sayang masih ada 2,3% yang tidak bangga menjadi orang Katolik, dengan berbagai alasan masing-masing.

Kalau ada yang bertanya mengapa harus bangga menjadi orang Katolik, apa jawabannya? Gampang sekali. Di dunia ini hanya ada satu agama yang pemimpin spiritualnya satu, dan diakui oleh semua Negara. Hanya empat dari 230an Negara di dunia yang tidak mengakui keberadaan pemimpin spiritual Katolik, Sri Paus. Negara-negara tersebut adalah Negara komunis berhaluan keras, seperti Korea Utara dan China. Sri Paus memerintah sebuah negeri yang penduduk dalam negerinya hanya 824 orang, bernama The Holy See atau Takhta Suci. Pemerintahan Takhta Suci memiliki Gubernur atau Gubernur Jenderal di 230an Negara lain, yang disebut Uskup atau Uskup Agung. Uskup dan Uskup Agung ini bertindak seperti Gubernur Jenderal pada pemerintah Commonwealth – Inggris. Tetapi Pemerintahan Commonwealth hanya merupakan himpunan dari belasan Negara bekas jajahan Inggris. Takhta Suci memerintah seluruh Negara di dunia, dalam konteks spiritual, melalui para Uskup Agung ini. Dan di hampir setiap Negara, Pemerintah Takhta Suci memiliki duta besarnya sendiri, demikian sebaliknya, setiap Negara memiliki duta besar untuk Takhta Suci Vatican. Kebanggaan lain yang boleh disampaikan kepada siapa saja, adalah bahwa pemerintahan Takhta Suci berumur 2000 tahun, dan semuanya tercatat rapi. Pemerintahan Takhta Suci dimulai dari Petrus yang ditunjuk Yesus sendiri untuk menjadi Uskup pertama (sebelum diganti menjadi Paus, disebut Uskup). Petrus memerintah Takhta Suci pada tahun 33 sampai 67 Masehi, dilanjutkan Santo Linus, tahun 67 – 76, dan seterusnya sampai Paus Benedictus XVI, Paus yang ke 265 sejak 2005 sampai sekarang. Uniknya, tidak ada satu tahun pun yang kosong.

Selain itu, masih menurut survey yang sama, yang dilakukan oleh Seksi Penelitian Dewan Paroki Santa Anna ini, ternyata bahwa 77,28% dari responden setuju membuat tanda salib di tempat umum sebagai tindakan yang sangat baik meskipun ada 5,38% yang tidak setuju. Survey yang direspons oleh 1823 responden dari 2819 KK yang ada di Paroki Santa Anna ini, juga melansir adanya 68,99% responden yang setuju bahwa pemakaian nama baptis adalah tindakan missioner, dan hanya 8,07% yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Bagaimana dengan Anda? Banggakah Anda menjadi Orang Katolik?

18 Responses to “Mengapa Bangga Menjadi Orang Katolik?”

  1. PAk steph,
    sekedar nyambung saja…

    saya pernah hadir di acara perkenalan CALEG.
    Di acara itu, CALEG yang berasal dari salah satu partai nasionalis besar itu berkata,

    Di partai kami, Bendahara seringnya orang Katolik. Karena ketua kami percaya, orang katolik itu JUJUR!

    Secara tidak langsung, hal itu membuat saya bangga, wah ada satu value yang sangat dihargai oleh orang orang non katolik terhadap orang katolik.. KEJUJURAN…

    Semoga kita tetap menghargai nilai nilai yang diwariskan Kristus kepada kita.
    Jaman boleh berubah, tapi saya yakin Nilai Nilai dalam Agama Katolik tidak hilang ditelan jaman, selama kita mempraktikan nilai tersebut.

    thanks pak stephanus for the article, this is very inspirative for me.

    VicK.

  2. It’s a great thing for me…
    Itulah mengapa sampai saat inipun saya masih bangga menjadi seorang Katholik. Buat saya, dengan beraneka ragam keyakinan yang ada di Indonesia ini, Katholik masih menjadi yang terbaik buat saya.
    Meskipun saya menyadari tidak semudah itu menjadi orang Katholik. Kebiasaan membuat tanda salib di depan umum, memanggil dengan nama baptis juga masih saya lakukan. Entah mengapa tapi saya nyaman dengan kebiasaan ini.

    Tuhan memberkati…

  3. Dalam contoh kasus yang saya alami…
    Saya punya tugas di sebuah pabrik kendaraan mobil. Saya makan siang di kantin mereka. Sebelum makan saya tentu membuat tanda salib lalu makan seperti biasa tanpa menghiraukan sesuatu.

    Beberapa hari kemudian, saya didekati oleh seorang pimpinan pabrik, bertanya dengan muka tersenyum, “anda katolik ya ?” Tentu saya jawab “ya” & tak lama kemudian obrolan kita mengarah menjadi sharing iman lantas ia mulai curhat tentang masalah yang ia hadapi dalam urusan keluarga yg agak pribadi. Setelah selasai obrol, ia spt merasa lega & kembali tersenyum tapi kali ini lebih ceria !Ternyata ia memperhatikan saya sewaktu saya makan di kantin !
    BTW Kita tak usah sungkan membuat tanda salib, Tuhan akan atur segala sesuatu agar tak menjadi sia2, Tuhan punya pasti Indah…

  4. Saya belum bisa merasa bangga kalau saya belum bisa berbuat baik dengan kesadaran sendiri, dan mengejawantahkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari saya sebagaimana Kristus secara gamblang ajarkan.

    Namun demikian, seumpama toh saya kelak dikenal sebagai orang baik saya tidak tahu apakah saya musti bangga?

  5. Rekans, terimakasih atas komentar anda.
    Kebanggaan adalah sebuah perasaan yang muncul tatkala diri kita, atau sesuatu yang terkait dengan diri kita mendapatkan sesuatu (citra, image, prestasi atau hal semacamnya) yang prestisius, yang baik dan yang ikut meningkatkan citra kita. Untuk sdr Rusa mendamba, anda sudah punya sesuatu, yaitu mengenal Yesus secara baik. Buktinya anda tahu bahwa Kristus telah mengajarkan secara gamblang nilai-nilai kemanusiaan. Tinggal mengimplementasikan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
    Seseorang, pasti suatu saat akan merasa bangga akan dirinya sendiri. Dalam budaya Indonesia, mungkin belum semaju negara lain, tapi tetap ada. Saya jamin anda akan merasakannya suatu saat. Tuhan memberkati kita semuanya. Salam bahagia dan sukses untuk anda.
    SKR

  6. Terimakasih pak penjelasannya, cukup membantu saya dimana baiknya menempatkan perenungan saya tersebut. Salam bahagia juga :)

  7. Sebagai orang Katolik, saya sangat setuju apabila kita dimanapun berada menyatakan diri sebagai orang Katolik, antara lain dengan cara-cara yang paling sederhana/gampang seperti contoh diatas. Yang penting jangan “over” (berdoa dengan suara yang nyaring) dan juga jangan malu-malu (membuat tanda salib sembunyi-sembunyi/menekuk kepala sampai kemeja sehingga tidak nampak apabila kita membuat tanda salib). Syaloom

    NB : Tapi tidak hanya sekedar membuat tanda salib, yang juga penting adalah berdoa. Saya pernah makan siang bersama teman sekantor yang non Katolik/non Kristen dan sebelaum makan saya membuat tanda salib dan berdoa dalam hati. Teman saya bertanya “mengapa habis tanda salib koq diam”, saya jawab berdoa dan teman tadi bertanya lagi apa doanya. Saya jawab “ucapan terima kasih kepada Tuhan atas makanan dan minuman yang akan kita santap, mohon agar makanan dan minunan diberkati sehinga bermanfaat bagi kehidupan rohani dan jasmani kita dan juga berdoa untuk saudara-saudara yang kekurangan agar Tuhan maha pengasih berkenan memberikan berkat kepada mereka. Komentarnya “wah bagus ya “. Syaloom.

  8. Hallo,

    Saya hanya mau bilang bahwa tulisannya / sharingnya bagus sekali. Saya sendiri Katolik dan sangat bangga dengan ke-Katoli-an dengan alasan yang sama seperti anda. Sewaktu membaca artikel ini, kepala saya mengangguk2. Hehe…

    Trima kasih sekali lagi. :)

    Salam,

    Iin

  9. Saya baru 5th menjadi seorang katholik!! tapi jujur.. saya amat sangat bangga menjadi seorang katholik,karna agama katholik banyak mengajarkan tentang cinta kasih kepada semua mahluk didunia ini. sejak menjadi katholik hidup saya pun menjadi lebih tenang dan saya pribadi menjadi seorang yang sabar.
    apalagi… banyak mukjizat2 yang saya alami selama menjadi katholik. termasuk do’a “Novena Tiga Salam Maria”.

  10. Bangga jadi orang Katolik? Ya bangga. Kalau pulang dari gereja berjalan kaki atau naik kendaraan umum, dalam perjalanan disapa orang: ibu baru pulang dari gereja ya? Saya jawab iya, lalu pertanyaan berlanjut sambil memandang PS yg saya bawa: ibu bawa kitab suci ya? Ibu katolik? Saya jawab iya katolik. Orang yang menyapa saya tersenyum riang. Hanya dengan jawaban sederhana seperti itu, orang yg tidak saya kenal bisa memancarkan senyum tulus yang luar biasa seperti bertemu dengan sahabat lama.

    Pengalaman lain saya peroleh dari paman dari garis keturunan ibu saya. Paman mempunyai 3 kakak perempuan, salah satunya adalah ibu saya. Paman masih mengalami jaman kakek-nenek dari pihak ibu. Keluarga mbah buyut ini asli dari Aceh dengan nama khas Aceh yang kita semua ketahui, beragama islam, dan ada yang menuntut ilmu sampai ke perguruan Al Azhar di Cairo. Pihak keluarga mbah buyut berpesan kepada paman untuk berpegang pada keyakinan agama paman bersaudara (katolik), tidak perlu pindah agama mengikuti keyakinan mereka. Jadilah hingga akhir hayatnya paman beserta saudara-2nya yg hingga kini masih hidup, dengan iman dan keyakinan memeluk agama katolik.
    Mendidik anak menjadi Orang Katolik dengan kesadaran kini menjadi perhatian penuh saya terhadap anak saya. Hingga kini ia menjadi tempat curhat teman-temannya dari berbagai latar belakang/agama. Semoga ia tetap setia pada janji baptisnya selama-lamanya.

  11. Anita

    Anda lulusan mana? Wah pasti disiplin, tertib dan bermoral baik karena itu kan sekolah Katolik.

    Dia dirawat di mana? wah beres deh itu kan rumah sakit Katolik pasti keurus, tidak terlantar.

    Kita bangga menjadi umat Katolik, tapi sekaligus harus waspada, apalagi kalau kita membawa atribut Katolik, mobil digantungi rosario tapi nyopirnya tidak sopan. Leher digantungi salib tapi perilakunya tidak menunjang. Makan di tempat umum dibuka dan ditutup dengan doa & tanda salib tapi kurang sopan kepada pelayan restoran. kebanggaan kita kiranya memotivasi kita untuk lebih “baik” sehingga melalui perilaku kita orang mengenal bahwa kita “orang Katolik”. Saya setuju dengan contoh-contoh Pak Steve.

  12. wah…, kalau saya tetap bangga jadi orang Katolik.Katolik itu militan, tidak gampang menyerah. istilah jawa alon2 nanging klakon. saya sampai sekarang di kantor tetap bikin tanda salib sekalipun doa bersama dengan cara muslim. aneh kan?

  13. wah, saya sangat setuju dengan mba Anita.
    kebanggaan harus diiringi dengan perbuatan yang baik.
    jangan sampai kita terjebak dalam simbol dan lambang2.

  14. Wow, this article inspires me.

    Gak nyangka dengan bikin tanda salib di tempat makan (misalnya) gw secara gak langsung uda jadi missionaris awam. Jadi makin yakin nih.

    Sejauh ini gw bangga jadi Katolik, tapi gak bangga sama iman gw yg masih dangkal banget (ini sih salah gw, bukan salahnya Katolik haha). Sekarang gw lagi cari artikel ato referensi tentang kegiatan pendalaman iman Katolik, buat penulisan tugas gw, ada yang bisa bantu??

    Sayangnya jumlah orang Katolik makin berkurang yaa…
    Kebanyakan dengan alasan: misa Katolik membosankan dan pastornya ceramahnya gak asik, jadi sulit buat mendalami iman.
    Well, memang masih banyak yg harus dibenahi baik dari dalam maupun luar Katolik, ya.

    Masalah pindah agama itu (sekalian curhat nih) well gak masalah orang mo pindah agama apa aja selama itu demi beriman ke Tuhan YME dan praktek iman ke sesama(yg gw yakin, gak ada agama yg salah). Sayangnya banyak yang pindah agama cuma buat syarat married, ikutin pacar, ikutin trend, etc etc etc… abis itu, udah deh, agama KTP doank…

    Udah ah. Sekian.

  15. halo Pak Stephanus..
    Saya bangga jadi Katolik.. dan selama ini saya tidak tahu kalau memberi tanda salib itu menjadi misionaris..
    Dan saya benar2 bangga karna saya menjadi seorang misionaris :)
    Walaupun pendalaman agama saya masih kurang.. ehehee

  16. Bravo!

    ” SEKALI KATHOLIK,TETAP KATHOLIK DAN TERUS KATHOLIK “. Namun yang penting harus dibarengi juga dengan pikiran, hati dan perbuatan kita yang benar-benar mencirmankan Kekatholikannya.

    Thx all.
    Salam Damai Kristus bagi kita semua.

    From Medan North Sumatra

  17. Pak Sthepanus,

    terimakasih untuk artikelnya… kalau dipapua sudah merasa kami mayoritas sehingga pasti sebelum beraktivitas khususnya saat makan di tempat umum pasti tanda salib dan berdoa tapi setelah di jakarta beberapa bulan sudah mulai menurun krn mayoritas muslim tapi mulai skarang, saya akan terapkan kembali demi pembuktian akan iman pada Tuhan Yesus Kristus dan kekatolikanku.

    salam damai
    alex

  18. saya sangat senang banyak saudara- saudari yang bangga menjadi katolik.dan artikel ini sangat menginspirasi…

    sekedar berbagi.. saya setuju dengan saudara FUNKFANX..,saya membaca buku scott hahn, mendengarkan ceramahnya di Youtube dan akhirnya memahami bagaimana orang katolik memandang kitab suci dan apa pentingnya ekaristi..jujur saya merinding membaca kedashyatan ekaristi…

    bagi saudara-saudari seiman, saya sarankan membaca buku scott hahn. atau mengunjungi situs http://www.salvationhistory.com

    situs ini didirikan scott hahn dan ada free course online biblenya yang membantu memahami dasar alkitab dan memperkuat fondasi iman kita…

    well, menjadi katolik berarti harus menghayati ekaristi (misa) dan kitab suci.. saya menemukan bahwa tanpa kitab suci, saya tidak bisa memahami kepenuhan ekaristi (dan tidak lagi merasa misa membosankan) dan dengan ekaristi seluruh kitab suci dan iman saya menjadi hidup…

    Salam damai semua, semoga sharing saya membantu..
    maaf admin, saya sharing disini…semoga berkenan

    Rio

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>