Bahan pertemuan lingkungan dan arah gerakan APP 2010

Bahan pertemuan lingkungan pada masa APP 2010. Disiapkan oleh Rm Dedomau da Gomez, SJ. Bahan ini disampaikan pada pertemuan dengan seluruh perwakilan lingkungan di Rumah Doa Guadalupae, Minggu 21 Februari 2010.
============

Pertemuan 1 : KONTEKS KEMISKINAN
Apa kemiskinan itu?
Siapakah orang miskin itu?

Tujuan pertemuan
*UMUM: melihat lebih dekat lagi apa itu kemiskinan dan siapakah orang miskin itu?
*KHUSUS: menemukan potret siapakah orang miskin yang ada di lingkungan, yang perlu kita bantu?

Metode: brainstorming=curah gagasan
*peserta ditarik agar bertukar pikiran

Apa itu kemiskinan?
=situasi serba kekurangan
=ketidakmampuan seseorang mendapatkan makanan yang baik, tempat tinggal yang layak, pakaian yang pantas, akses pelayanan kesehatan yang cukup, pendidikan yang perlu, pekerjaan yang bermartabat, kebebasan mengekspresikan identitas&aspirasinya
=dsb

Siapakah orang miskin itu?
=pekerja dgn gaji pas (harian=Rp.18.600=di bawah 2 UD$)
=mereka yang tidak punya pendapatan tetap
=orang yg tidak punya tempat tinggal, termasuk yang tidak mampu membayar pondokan

Jenis Pekerjaan? Buruh, Pemulung, dsb…

Jenis kemiskinan
1.Jasmani/material
2.Jiwa:
a. rasa: tdk memiliki perasaan yg tdk lengkap
b. nalar: daya pikir tidak jalan
c. kehendak: tidak jelas kemauannya
3.Rohani: iman – harapan – kasih
4.Sosial: tdk dpt berpartisipasi, krg akses pendidikan, dsb.

Pertemuan 2: ANALISA SOSIAL & DASAR KITAB SUCI
Akar Kemiskinan
Dasar melawan kemiskinan

Tujuan Pertemuan
*menemukan sebab-sebab terjadinya kemiskinan
*memotivasi utk melawan kemiskinan dgn dasar Kitab Suci

Metode: permaianan atau diskusi utk melihat struktur sosial

Analisa Sosial
*lihat golongan/kelompok sosial yg ada
*jg struktur kuasa: siapa tentukan proses sosial, siapa diuntungksn,siapa dirugikan.

Akar Kemiskinan
1.Kesalahan orang miskin (model konsensus: konservatif)
2.Budaya/Gaya hidup
3.Kesalahan Struktur: tata ekonomi berpihak pada mereka yang punya akses&kelompok industri (model konsensus: liberal)

Dasar Kitab Suci
*Melawan kemiskinan=bagian konstitutif pewartaan Injil. Artinya, melawan kemiskinan itu tidak terpisahkan dari pewartaan Kabar Gembira
*Bahan KS: Lk 4, 18-19; Mat 10, 8; Mat 25: 31-46; Kisah Rasul 2, 41-47; Yakobus 5, 1-6; Yoh 6

Pertemuan 3: RENCANA AKSI
Inventarisasi aksi
Pembentukan tim kerja

Tujuan Pertemuan
*untuk mengumpulkan semua kemungkinan kegiatan yg dapat dibuat guna melawan kemiskinan, dari yg sederhana/sekali dilakukan sampai dgn yg berkesinambungan
*peserta diminta untuk membuat tim kerja: koordinator, pelaksana, relawan-relawan, dsb.

Metode: diskusi

Inventarisasi Aksi
*doa
*aktivitas lain: credit union, pengelolaan sampah jadi pupuk, dsb (lihat: program PSE Paroki St.Anna)

Pembentukan tim kerja
Koordinator, relawan.
Kapan dimulai?

Pertemuan 4: TINDAKAN NYATA & EVALUASI
Melakukan tindakan nyata
Evaluasi berkesinambungan

Tujuan Pertemuan
*membuat konkret rencana aksi yg sdh dibuat dlm tindakan, dengan tolak ukurnya (aksi tidak hanya selama masa APP)
*sesudahnya, dlm kurun waktu tertentu, perlu diadakan evaluasi rencana dan kegiatan konkret yg telah dilaksanakan

Strength/kekuatan apa saja yg kita miliki dlm membuat rencana dan aksi melawan kemiskinan?
Weakness/kelemahan apa saja yang ada pada kita dalam merencanakan dan membuat aksi?
Opportunity/kesempatan apa saja yang ada? Yang sudah kita ambil? Bagaimana?
Threat/ancaman apa saja yang kita alami saat merencakan aksi dan mempraktekkannya?

CATATAN TAMBAHAN
Tema gerakan APP 2007-2010:
“Pemberdayaan Kesejatian Hidup”.
*2007: Pemberdayaan CU
*2008: Pemberdayaan pertanian integral, sampah.
*2009: Pertemuan antar umat beriman
*2010: Melawan kemiskinan dalam keluarga

Fokus pada keluarga
*Konteks: kemiskinan keluarga
*Analisa sosial: apa yang menyebabkan?
Motivasi dgn dasar biblis: Kisah Rasul 2, 41-47; Yoh 6, 56-59
*Rencana: melawan gaya hidup konsumtif
*Aksi: kebutuhan primer didahulukan
Evaluasi

28 Responses to “Bahan pertemuan lingkungan dan arah gerakan APP 2010”

  1. Bagaimana kalau semua orang yang termasuk kategori miskin di lingkungan lingkungan kita data dan kita survey kemudian kita lihat apa akar dari kemiskinan .misalnya dia miskin karena suaminya tdk mempunyai penghasilan tetap. terus kita mencari ibu ibu WK yang pandai membuat kue dan mempunyai jiwa sosial tinggi untuk mengajari istri si miskin membuat kue.Gereja memberi modal awal, Istri si miskin disarankan menjual kue di kantin gereja atau disekolah sekolah Katolik. Bila akar kemiskinan disebabkan karena anaknya sudah besar2 tapi belum ada yang bekerja karena sulitnya mencari pekerjaan. kita berhubungan dengan umat katolik yang mempunyai perusahaan dan membantu memasukan anaknya untuk bekerja disana. tentunya dibekali sedikitketerampilan. (Dalam hal ini peran Pastor sangat dibutuhkan,maksudnya Pastor yang langsung berbicara dengan pengusaha itu atau berbicara dng Ibu WK yang pandai membuat kue itu)

  2. Berikut ini dialog Pak Adi, Ibu Agatha dan Rm Dedo yang dipindahkan dari rubrik “UMAT BERKATA”. Untuk selanjutnya, dialog seputar APP 2010 dimohon menggunakan rubrik ini. (Admin)
    =========

    Saya tidak tahu, pertanyaan ini seharusnya dialamatkan ke DP atau Sie Liturgi, atau malah ke Sekretariat:

    1. Dalam masa Prapaskah 2010 ini, setiap Lingkungan dibekali 1 set bahan Prapaskah. Tetapi, kok bahan untuk Pendalaman Iman dengan tema terkait TIDAK ADA. Apakah ini hanya terjadi pada Lingkungan kami? Atau semua Lingkungan juga tidak mendapatkan? Atau, memang bahan itu dari KAJ tidak ada? Tetapi, aneh, kok Paroki lain diberi bahan Pendalaman Iman! Apakah bahan itu kini sudah tidak dianggap perlu?

    2. Bahan-bahan pertemuan biasanya dibagi ke Lingkungan dlam jumlah terbatas (@ 5 eksemplar). Padahal umat di Lingkungan tidak hanya 5 keluarga! Akibatnya, pengurus Lingkungan harus memfotokopikannya. Ini keluar biaya. Mengapa biaya tersebut tidak dialihkan untuk membeli bahan-bahan pertemuan tsb? Toh sama-sama keluar biaya! Apalagi, biaya fotokopi bisa lebih MAHAL daripada apabila beli materi pertemuan yang dicetak.

    Terima kasih.
    adi
    =========

    Apa yang dikemukakan oleh Bpk. Adi mengenai tidak adanya buku panduan untuk pertemuan pra-paskah di lingkungan juga telah mengusik pikiran kami. Pada pertemuan pertama kami hanya berdoa jalan salib, setelah itu ada sedikit panduan mengenai topik “Mari Bekerjasama Melawan kemiskinan”.

    Kami merasa ada yang kurang, atau istilah sekarang “garing” bila dalam pertemuan pra-paskah tidak ada renungan seperti tahun-tahun yang lalu. Kami tidak tahu, penghilangan panduan renungan tersebut atas kehendak siapa?

    Kami merasa bahwa hal tersebut sangat disayangkan, karena masih sangat banyak umat katolik yang jarang membaca alkitab dan yang secara aktif mempelajari firman Tuhan di rumah. Secara resmi Gereja menetapkan bulan kitab suci hanya bulan September setiap tahunnya. sehingga diharapkan bahwa pada kesempatan lain, diantaranya masa pra-paskah ini dapat dipergunakan untuk menambah porsi dalam mepelajari alkitab secara bersama dalam lingkungan. Panduan mengenai “Mari Bekerjasama Melawan Kemiskinan” yang diharapkan merupakan langkah nyata memang baik, malahan dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya umat di lingkungan baik secara pribadi maupun secara kolektif telah melaksanakan hal tersebut. Akan tetapi menurut hemat kami, baiklah kegiatan rohani yang merupakan pendalaman iman dapat berjalan bersama dengan tindakan nyata di lapangan.

    Karena banyak warga lingkungan yang menanyakan mengenai hal ini, kami menanyakan ke paroki lain (Paskalis) ternyata mereka mendapatkan buku panduan dari Komisi Kerasulan Kitab Suci KAJ, yang berisi panduan untuk 5 kali pertemuan. Pertanyaan kami adalah, bila di tempat lain masih ada panduan seperti tersebut diatas, mengapa di paroki kita tidak ? Apakah pertimbangannya.

    Mohon tanggapan dari pihak yang menangani masalah ini. Terima kasih atas perhatian yang diberikan.

    Salam
    Agatha
    =========

    Pak Adi dan Ibu Agatha yang terkasih,

    Dalam pertemuan tgl 21 Feb di Guadalupe telah dijelaskan kepada para peserta yang hadir (ketua lingkungan, sie liturgi/katekese, sie PSE, dsb) ttg pertanyaan2 Anda berdua. Jadi sebetulnya Anda bisa bertanya pada salah satu diantara mereka yang hadir.

    Baiklah saya menjelaskan. Buku panduan dari KAJ memang tetap ada SEPERTI BIASAnya. Paroki kita memutuskan untuk tidak menggunakan dengan alasan bahwa tema APP kali ini lebih mengajak kita untuk bertindak; lagipula ini masalah sosial. Maka pilihannya: pastoral APP paroki St.Anna berupa spiral (konteks, analisa social & iman atau kitab suci, rencana aksi, kegiatan nyata, evaluasi, dst. Jadi persis kebalikan SEPERTI BIASA yang dibuat. Maka kita pun menentukan 4 (bukan 5) pertemuan per pekan, dengan mengikuti spiral itu. Panduan 4 pertemuan itu memang tidak dibuat SEPERTI BIASA yang sangat detail KATA PER KATA; dan sudah dibagikan juga.

    NB: ada lingkungan kita yang mensharekan bahwa pertemuan APP dengan cara ini makin mengasyikkan. Lagipula, seorang narasumber dari PSE-KAJ dalam pertemuan hari itu mengatakan: “Di tahun2 mendatang KAJ justru ingin melakukan apa yang sekarang dibuat oleh paroki St.Anna ini”. Sekian

    Rm Dedo

  3. Romo Dedo ytk,
    entah Ketua Lingkungan saya/Wakilnya, yang menghadiri pertemuan tanggal 21 Februari itu, kurang bisa menangkap maksud perubahan cara/paradigma pertemuan Prapaskah yang telah biasa dilakukan seperti biasa bertahun-tahun, entah punya maksud lain, yang jelas panduan pertemuan yang Romo Dedo bikin tidak dipakai.
    Saya pribadi, secara jujur, bahan yang dibuat Romo Dedo lebih konkrit, yakni ke arah tindakan nyata. Tetapi Lingkungan saya sudah terbiasa menerapkan bentuk ibadat, bukan sharing atau diskusi atau dinamika kelompok.
    Jadi, ini barangkali soal sosialisasi kepada seluruh umat! Alangkah baiknya, apabila ini menyangkut “pemahaman” seluruh umat, bisa disinggung dalam kotbah misa. Ini hanya sekedar usul.

    Walhasil, Lingkungan saya (dibela-belain beneran) mencari bahan Ibadat Pendalaman Iman (sic!) dari paroki lain, kemudian difotokopi.
    Memang saya menyadari bahwa Pendalaman Iman berbeda dengan “Pertemuan untuk Tindakan Nyata” (meskipun keduanya bisa saja melandaskan diri pada Kitab Suci). Dan saya yakin, semua bermaksud AMDG semata.

    Terima kasih, Romo Dedo.

    Adi

  4. dear pak Adi,
    Yah begitulah kalau sistemnya adalah up to bottom, apa yg menurut mereka baik harus dilaksanakan dan dalam kasus anda, berarti lingkungan anda tidak ada kebersamaan simple kan ?

  5. Semestinya saya tidak suka ikut-ikut nulis di sini, tetapi setelah membaca korenspondensi yang masuk, juga renungan pra-paskah yang telah dilaksanakan di lingkungan saya, kayanya saya ingin ikut nulis.

    Pertama-tama saya ingin tanya :
    1. Apakah paroki Santa Anna mendapat ijin khusus untuk tidak mengikuti panduan yang disediakan oleh KAJ ? Setahu saya bahan renungan pra-paskah disiapkan dengan cermat oleh Komisi Keuskupan bersama Bapak Uskup sendiri, bukan oleh PSE-KAJ.
    2. Apakah paroki Santa Anna merasa spesial jika dibandingkan dengan paroki-paroki lain yang menggunakan renungan pra-paskah yang disiapkan oleh KAJ ?

    Sorry Romo, sejak berdirinya gereja Santa Anna saya tinggal di paroki ini, setiap ibadat lingkungan berlangsung mulus dengan panduan yang telah disiapkan oleh KAJ dengan KATA PER KATA (istilah Romo Dedo), dan saya merasa itu semua membangun iman umat.

    Seperti umat di lingkungan Pak Adi, sayapun mencari buku renungan pra-paskah ke paroki lain. Setelah membaca seluruh lembar dalam buku itu, saya tidak menemukan alasan mengapa buku tersebut tidak dipakai. Judul bukunya adalah “Bahan Pendalaman Iman Lingkungan Masa Pra Paskah 2010″ sedang temanya “Mari Bekerjasama Melawan Kemiskinan”. Memang iman tanpa perbuatan adalah mati, tapi biarlah pendalaman iman tetap jalan bersama-sama perbuatan kasih.

    Pak Adi mungkin tidak perlu mencari tahu apakah Ketua Lingkungan/Wakil yang hadir dalam pertemuan tanggal 21 Februari 2010 kurang bisa menangkap maksud perubahan cara/paradigma pertemuan pra-paskah. Belum tentu lingkungan lain tidak mengalami kesulitan pada waktu menyampaikannya kepada umat.

    Bila ada yang men-share-kan bahwa pertemuan APP dengan cara ini makin mengasyikkan bisa saja. Tapi saya percaya masih banyak yang merasa cocok dengan renungan yang KATA PER KATA tsb. Seperti juga kalau pendalaman Kitab Suci banyak yang tidak datang karena tidak asyik.

    Sekali lagi, saya terpaksa ikut-ikut nulis karena sebagai umat paroki Santa Anna saya merasa dirugikan karena kehilangan sebagian dari “kesempatan baik” yang saya perlukan untuk mengisi pra-paskah. Meski demikian saya menghargai maksud baik Romo dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Romo.

    Selamat melayani.

  6. Pak Ignatius Purba, saya tidak melihat bahwa ada penyimpangan dari apa yang diberikan romo paroki anda terkait dengan bahan pertemuan lingkungan dengan “Bahan Pendalaman Iman Lingkungan Masa Pra Paskah 2010″ KAJ.

    saya akan bantu.. coba kita melihat ke belakang sejenak yaitu sidang KWI 2006, di sana dirumuskan 4 hal pokok dalam nota pastoral, yaitu :

    1. melihat kondisi Indonesia; dan dari kondisi Indonesia ini kemudian secara khusus dirumuskan “Masalah Sosio-Ekonomi”.

    Ini sejalan dengan rumusan pertama yang disiapkan romo Dedo, yaitu melihat konteks kemiskinan dan siapa yang disebut sebagai orang miskin.

    2. “Masalah Sosio-Ekonomi” itu kemudian dipandang serta diartikan dalam terang iman, dan dari sana kami sampai pada “Tanggapan Pastoral”.

    ini pun sejalan, dengan point ke-2 yaitu melihat kemiskinan dari sudut pandang iman. Bagaimana seorang Katolik melihat kemiskinan ini dari kacamata iman.

    3. “Tanggapan Pastoral” tersebut dicermati kembali untuk menentukan arah “Gerakan Sosio-Ekonomi”.

    dan ini pun sejalan, dengan point ke-3 yaitu AKSI, yang merupakan tanggapan kita terhadap kemiskinan yang sudah kita definisikan di atas.

    4. seturut arah “Gerakan Sosio-Ekonomi” itu ditentukan rancangan gerakan yang hendak diupayakan untuk memperbaiki keadaan hidup bersama di Indonesia melalui usaha sosio-ekonomi.

    membahas saja di tataran teori dan filosofi tentu saja tidak cukup. Iman harus ditunjukkan dengan perbuatan. Jadi poin nota pastoral ini pun sesuai juga dengan rumusan ke-4 romo tentang tindakan nyata dan evaluasinya.

    Jadi saya melihat usaha romo-romo paroki anda, adalah untuk menyederhanakan rumusan pendalaman iman agar dapat diwujudkan menjadi suatu tindakan nyata yang bermanfaat bagi pertumbuhan iman Katolik umat dan bagi sesama. Menurut saya ini adalah usaha positif yang harus didukung oleh umatnya. Anda beruntung memiliki romo-romo yang peduli tentang hal ini..

  7. dear all,

    masalah ini sebenarnya terletak pada tegangan antara “kontemplasi” dan “aksi”. Kontemplasi menekankan pada segi ibadat, meskipun tidak meniadakan aksi-aksi konkrit. Sedangkan “aksi”, lebih menekankan pada tindakan, kendati tidak menegasikan doa-doa.Ini masalah lama. Idealnya adalah gabungan antara kontemplasi-dalam-aksi, atau aksi-dalam-kontemplasi.

    Saya melihat secara substansi, ibadat yang dibuat oleh KAJ dan tindakan aksi yang dibuat Romo Dedo, tidak ada pertentangan frontal. Bahkan cenderung saling melengkapi.

    Maka, kalau bahan yang dibuat Romo Dedo diterapkan di Paroki ini, hendaknya ada evaluasi pada akhirnya dari Lingkungan2 secara komprehensip.

    Terima kasih.
    Adi

  8. Pak johan, pak ignatius tidak mengatakan mengenai adanya penyimpangan apa tidak . menurut pandangan saya beliau hanya agak kagok dengan bahan pendalaman iman prapaskah tahun ini yg tiba2 saja agak beda dengan tahun2 sebelumnya . Hal ini mohon dimaklumi karena tanpa sosialisasi yg cukup lama secara tiba2 “tradisi” yg sudah lama dilakukan dirubah. Walaupun kita bisa berkilah bahwa sudah ada sosialisasi sebelumnya (1X pertemuan) menurut saya itu tidak cukup, harus ada pertemuan antara romo dengan umat per lingkungan.

    Jadi terima kasih apabila sdr johan mau membantu dengan pengertian2nya, tetapi masalah ini bukan terletak disitu, ini hanya masalah sosialisasi yg kurang intensif saja.
    Mengenai tindakan nyata , perlu sdr ketahui rata rata lingkungan di st anna ini telah melakukannya tanpa perlu menunggu masa prapaskah (al. sumbangan ke panti asuhan, bantuan korban gempa, bantuan korban kebanjiran dll.)

    tks.

  9. Dear umat St. Anna…

    saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, hanya saja saya prihatin membaca komentar2 terkait dengan bahan pertemuan lingkungan dan arah gerakan APP 2010…

    prihatin atas fenomena umat yang tidak mau keluar dari budaya ceremonial pra paskah yang menggunakan metode pendalaman iman alkitabiah.

    tanpa bermaksud untuk menilai tindakan atau pemikiran apa pun, saya hanya ingin menyampaikan bahwa metode pendalaman iman ceremonial (pertemuan indoor, duduk bersama diskusi tentang topik tertentu dan sharing pengalaman) tidaklah cukup dan tidak lagi relevan untuk konteks kehidupan manusia saat ini.

    perkenankan saya mengajak semua umat st. anna untuk membuka mata lebar2 (mata kepala, mata hati dan mata batin) untuk melihat kondisi nyata yang terjadi di sekitar anda. jika sudah melihat betul, maka anda akan melihat bahwa apa yang terjadi di sekitar anda adalah pendalaman iman yang lebih mendalam daripada pendalaman iman yang “biasa” kita lakukan bersama selama ini.

    tidak dapat dipungkiri bahwa setiap pribadi mempunyai prioritas dan kesibukan masing-masing sehingga lebih memilih untuk mengikuti metode pendalaman iman ceremonial yang ditawarkan oleh Gereja Katolik, akan tetapi bukankah lebih baik jika kita perkaya lagi metode tersebut dengan tindakan nyata (yang betul2 nyata, tidak sekedar sumbang sana sumbang sini) kepada sesama kita yang sangat membutuhkan (lebih “memanusiakan” lagi sesama kita yang miskin).

    mari kita sama2 bergerak dan melangkah untuk mencari tahu apa yang menjadi akar dari kemiskinan di sekitar kita (termasuk kemiskinan di dalam diri kita) kemudian mari kita sama2 bergerak dan melangkah untuk keluar dari kemiskinan itu dalam tindakan nyata (yang benar2 nyata).

    oya…membaca kitab suci tidak membutuhkan waktu berjam2 kok, hanya sekitar 15 menit saja, pertanyaannya sekarang adalah bersediakah saya menyempatkan waktu saya sekitar 15 menit itu untuk membaca sapaan Tuhan melalui ayat2 kitab suci dan mampukah saya merenungkan sapaan tersebut dalam setiap tindakan, pekerjaan dan pikiran saya sepanjang hari ini?

  10. Saudara-saudari ytksh,

    Wah rupanya kita sudah mempraktekkan sharing di web ini, Puji Tuhan. Semoga bermanfaat. Terima kasih Pak Johan yang sudah ikut bergabung.

    Posting dari pak Adi & pak Yanto tanggal 3 Maret 2010 mungkin baik kita pertimbangkan. Seyogyanya kita memang memberi ruang bagi saudara-saudari kita yang menurut NN “umat yang tidak mau keluar dari budaya ceremonial pra-paskah yang menggunakan metode pendalaman iman alkitabiah” , karena kita ini tercakup dalam suatu lembaga keagamaan (Gereja Katolik). Saya menjumpai beberapa sahabat dalam lingkungan yang mengalami “pertobatan nyata” setelah sharing iman dalam ibadat pra-paskah di lingkungan. Bila “ceremonial pra-paskah” bisa menjadi sarana bagi pertobatan seseorang mungkin baik kita mempertimbangkan kembali bagaimana sebaiknya.

    Saya sepakat dengan Pak Adi …………”Idealnya adalah gabungan antara kentemplasi-dalam aksi, atau aksi-dalam kontemplasi”.
    Seperti yang berlangsung di lingkungan/wilayah kami, telah bertahun-tahun kami melaksanakan tindakan nyata yang justru merupakan hasil dari sharing pendalaman iman(pertemuan indoor, duduk bersama diskusi tentang topik tertentu dan sharing pengalaman) karena tema yang mirip dengan tema sekarang ini sudah cukup sering diangkat. Tindakan nyata yang dilakukan antara lain, penyuluhan pembuatan pupuk organik dan membudidayakan jamur yang mempekerjakan sekaligus memberdayakan warga sekitar. Disamping itu kami juga telah melaksanakan program anak asuh sejak tahun sembilan puluhan hingga saat ini, dan masih akan terus berlangsung. Ini hanya sekedar contoh, saya percaya bahwa di banyak lingkungan/wilayah lain pasti juga sudah melakukan sesuatu. Jadi sebenarnya kita ini bukan nol sama sekali yang perlu buka mata lebar-lebar. Akan tetapi,karena program pengentasan kemiskinan merupakan proses yang berkesinambungan, perlu adanya kreativitas / inovasi dari kita semua. Mari kita sharingkan ide-ide yang mungkin dapat kita programkan, bila perlu melalui web ini.

    Marilah dalam terang kasih Tuhan kita berbagi, berbagi apapun yang Tuhan telah karuniakan kepada kita bagi sesama yang membutuhkan. AMDG

  11. Dear all,
    Kalau rm dedo bisa mengajak lingkungan yg merasa “PI nya mengasyikkan” untuk dapat sharing disini mungkin akan lebih mengasyikkan lagi. Kita jadi bisa melihat pencerahan yg didapat dari lingkungan tersebut.
    tks.

  12. @Yanto.. nah, anda sendiri memberikan informasi sebelum masa pra paskah pun lingkungan2 anda katakan sudah melakukan AKSI… jadi [bahkan] buat apa lagi bahan perenungan dari KAJ sekali pun atau pendalaman iman masa pra paskah di lingkungan2, tokh sudah ada AKSI ? :)

    anda belum melihat esensinya.. bahkan AKSI yang dimaksud bukan saja menggalakkan pengumpulan dana untuk tujuan2 sosial yang memang juga baik, tetapi juga suatu gerakan sosio-ekonomi dari umat basis, yang bersifat mendorong peningkatan kehidupan sosial ekonomi umat yang berkesinambungan dan manfaatnya tidak sesaat, melainkan dapat dirasakan terus menerus sebagai kesatuan dalam kehidupan sehari-hari.

    Jika menggunakan analogi lama, maka contoh2 anda tentang AKSI lingkungan dalam mengumpulkan dana masih memberikan ikannya dan dalam cenderung ad-hoc (dilakukan bila sudah ada kejadian atau kesempatan), sedangkan yang diharapkan bukan saja ikannya, melainkan juga pancing dan umpannya, dan caranya memancing supaya mendapatkan hasil yang diharapkan juga diajarkan.

    saya percaya anda pun sudah membaca surat gembala pra Paskah 2010 KAJ bukan ? ada baiknya kita membaca kembali surat gembala.. (bisa di baca di http://kaj.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=117&Itemid=50) poin AKSI dituliskan di poin ke 4, 5 dan 6..

    sedangkan untuk sosialisasi, saya serahkan anda-anda umat paroki Santa Anna… ini bukan saja tugas romo atau DPH, tetapi semua umat yang peduli.. jika kurang tahu, saya pikir romo-romo paroki anda membuka pintunya lebar-lebar untuk menjawab dan memberitahu. Dan media online terutama bentuk rubrik di website paroki anda yang seperti ini tentu memiliki kekurangan dalam mendukung suatu dialog, hingga anda benar-benar paham. Jadi media tatap muka itu jauh lebih baik. Yang sudah mengerti, hendaknya membantu romo-romo yang jumlahnya saya percaya tidak sebanding dengan jumlah umat paroki yang harus mereka layani tanpa pilih kasih..

    @Adi, saya setuju dengan anda, memang hendaknya ada evaluasi.. bahkan bisa saja, apa yang dilakukan romo Dedo dan rekan-rekannya di paroki anda adalah hasil pengamatan dan evaluasi mereka. Tetapi tentu saja, setelah Paskah 2010 ini pun perlu lagi ada evaluasi, hingga nanti ditemukan bentuk-bentuk, pola-pola yang bisa dipakai untuk menggerakan umat basis dalam membantu melawan kemiskinan. bukan saja satu bentuk, atau satu pola, tetapi beberapa pola kegiatan dan setiap kegiatan diharapkan mendorong munculnya ide-ide yang bisa direalisasikan dan tentu saja memberi manfaat bagi mereka yang digolongkan orang-orang miskin.

  13. dear all,

    secara jujur, saya merasa sangat prihatin bahwa ada warga yang meragukan “ceremonial” dalam suatu paguyuban umat beriman, khususnya Umat Katolik Roma, di bawah Pimpinan Tahta Suci.
    Saya terus terang agak kurang “sreg” dengan istilah “ceremonial” untuk menggantikan “ibadat” liturgis. Menurut saya –entah yang lain– ibadat liturgis umat Katolik Roma BUKAN ceremonial. Dan, juga bukan BUDAYA. Ibadat RK adalah Tradisi warisan, dalam mana iman katolik dihidupi!
    Itulah sebabnya, ikut Perayaan Ekaristi (budaya ceremonial??) menjadi Hukum Gereja wajib bagi setiap pemeluk agama RK.

    Saya protes keras, kalau ritual ibadat katolik semakin dieliminir!

    Mungkin ada denominasi tertentu, yang “hanya mendasarkan diri” pada inspirasi Kitab Suci, lalu mengambil tindakan konkrit. (Maaf, saya jadi ingat prinsip “sola scriptura”!).

    Saya mohon maaf, kalau kata-kata saya ini agak “keras” dan menyinggung perasaan banyak orang.

    Salam,
    Adi
    (yang lebih suka pada ora-in-labora atau labora-in-ora daripada Ora et Labora)

  14. He…. he…. he…… asyik ya seperti di Senayan aja saling saut sautan ( interupsi interupsi). Lingkungan saya kebingungan malah pertemuannya hanya jalan salib saja. Saya interupsi juga nih berapa ya dalam pertemuan tersebut dihadiri OMK kita, prihatin prihatin penerus kita kok absen ? Di pertemuan di Guadalupe 21 Feb ’10 aja dapat dihitung OMK yang hadir dengan jari.
    Sumonggo . . .

  15. Rabu 3 Maret saya ikuti pertemuan di Lingkungan saya. Apa yang terjadi? Ada copy bahan dari romo Dedho dan buku jalan salib, tapi tak tahu mau mulai bagaimana. Wakil dari lingkungan yang ikut sosialisasi APP di paroki juga bingung karena tidak paham. Yang dia sampaikan pada warga hanya bahwa ada dana dari PSE sebesar Rp. 2,5 juta yang bisa digunakan kalau mau bikin usaha. Itu saja, selebihnya tidak paham. Mereka lalu mau isi dengan jalan salib saja.

    Kebetulan saja pimpinan pertemuan nanya, sebelum dimulai jalan salib ( saya sebenarnya pengin lihat di lapangannya seperti apa paradigm chance ini). Akhirnya saya coba jelaskan bahwa model pertemuan Prapaska sekarang ini diubah agar pertobatan kita dapat lebih menjawab tantangan nyata yang ada di lingkungan kita. Selama ini kita mulai dari renungan Kitab Suci, lalu sharing, bikin niat pribadi untuk perbaikan dalam rangka pertobatan dan biasanya berhenti di niat pribadi itu saja dan sekarang dibalik dari kemiskinan yang ada di lingkungan, kita diajak untuk bersama-sama melawan/mengatasinya, dalam terang Firman Tuhan, dalam terang Kitab Suci. Kalau dulu dari Kitab Suci turun ke sawah, sekarang dari sawah baru ambil Kitab suci. (Selama ini Bible to Life sekarang Life to Bible).

    Lalu saya tawarkan pertemuan 1 ini analisis kemiskinan di lingkungan,(mesti diwanti-wanti kemiskinan di lingkungan kita, karena kalau tidak bapak-bapak yang suka politik cendrung bicara kemiskinan nasional). Peserta dibagi dalam 3 kelompok. Setengah jam bicara kelompok. Rame dan pertemuan jadi hidup; ada yang buat poin-poin diskusi. Sudah ada beberapa usulan konkret untuk dilakukan. Baru dilanjutkan dengan jalan salib.

    Untuk pertemuan 2 nanti setengah jam refleksi Kitab Suci, baru jalan salib. Pertemuan ke 3 dan 4 coba ngajak bagaimana menggarap usulan dari pertemuan 1 dalam planning, cara mewujudkannya bagaimana. Setiap pertemuan dilanjutkan dengan jalan salib sebagai olah perubahan menuju perbaikan (pertobatan).

    Pertemuan pertama rame dan hidup; belum tahu pertemuan-pertemuan selanjutnya nanti seperti apa dan apakah dapat berlanjut sebagai gerakan pemberdayaan.

    Ada beberapa hal yang secara mendasar perlu jadi bahan evaluasi kita:

    1. Ada beberapa macam penggerak di Lingkungan. Pertemuan mingguan Prapaska biasanya dipimpin oleh penggerak spiritual; sedang penggerak APP biasanya pengumpul amplop atau pengusul bingkisan untuk dimintakan ke KAJ. Penggerak social ekonomi biasanya jalan sendiri sepanjang tahun, tidak selalu tampil dalam pertemuan mingguan Prapaska. Untuk mensinkronkan ini, butuh waktu. Pimpinan pertemuan belum tentu paham perubahan paradigma ini. Pimpinan pertemuan juga belum tentu paham dengan perubahan pendekatan dalam sharing Kitab Suci, yang biasanya deduktif (Bible to Life) menjadi induktif (Life to Bible) ini; apalagi bekalnya sangat terbatas .

    2. Kesan bahwa sisi rohani tidak ada lagi, perlu dicermati. Rekoleksi – rekoleksi kemarin pun yang diapresiasi sangat bagus oleh para peserta, juga agak kehilangan dimensi ini. Mungkin tantangannya adalah bagaimana menjembatani dan memadukan dimensi gerakan kerohanian dengan gerakan social ekonomi di lingkungan.

    Saya sangat setuju dengan ajakan romo Sudri bahwa:

    1. Kita musti belajar apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan/di lingkungan
    2. Kita evaluasi lagi
    3. Kita beri pendampingan lebih baik lagi

    Wasalam

  16. @ Johan,
    Mungkin sdr Johan tidak melihat kata al (antara lain), karena untuk mengetahui secara mendetail kegiatan di lingkungan2 adalah tidak mungkin.Justru di forum inilah baru saya dapatkan masukan bahwa ternyata di lingkungan/wilayah sdr aloysius adi telah ada kegiatan penyuluhan pembuatan pupuk organik,membudidayakan jamur, anak asuh.Mudah2an lingkungan lain dapat saling sharing disini mengenai kegiatan2 mereka sehingga antar lingkungan dapat terjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih erat.

    Mengenai aksi vs pendalaman iman, itu hanya kesimpulan anda saja, tapi it’s okay semua boleh berpendapat. Informasi mengenai lingkungan tsb saya sampaikan berkenaan dengan posting sdr tgl 3 Maret,dimana kesan dari tulisan sdr tsb adalah seolah olah seluruh lingkungan di st anna kerjanya hanya membaca kitab suci saja dan mereka tidak berbuat sesuatu .

    Mengenai soal ikan apa pancing, biarkan itu menjadi pemikiran lingkungan masing2, apakah mereka sudah mampu memberikan pancing atau baru dapat memberikan ikan atau mungkin juga mereka belum dapat memberikan apa2

    Mnegenai sosialisasi saya rasa anda tidak perlu menyerahkannya kepada umat santa anna karena bukan anda yg berinisiatif untuk menyelenggarakan PI di st anna. Penggagas yg perlu melakukannya.Dari posting disini saja sudah kelihatan masih banyak yg bingung, masukan dari pak pomo sangat berguna dan 3 ajakan dari romo sudri tsb lah yg saya maksud dengan sosialisasi yg lebih insentif .
    tks

  17. Sedikit tambahan mengenai Bible to life dan Life to bible :

    Tugas teologi adalah memasang jembatan antara umat beriman masa kini dan realitas iman (masa lampau) yg terungkap dlm alkitab. Tetapi realitas ilahi itu secara terjamin hanya tercapai melalui ungkapannya dalam kitab suci. Jadi melalui alkitab teologi mengantar umat kepada realitas penyelamatan ilahi.

    Jadi teologi mesti memperhatikan dua kutub serentak. Kutub yg satu ialah isi alkitab yg digali oleh ilmu tafsir dan teologi alkitabiah, kutub yg lain ialah umat beriman masa kini serta situasi realnya. kedua kutub itu mesti dihubungkan satu sama lain, supaya iman umat tetap mengenai sasarannya, yakni (dalam rangka karangan ini): Allah yg bagaimana menyelamatkan manusia yg bagaimana dgn cara yg bagaimana.Selebihnya teologi bertugas untuk menghadapi masalah2 baru yg tdk pernah digumuli umat beriman dahulu berdasarkan apa yg digali dr alkitab.

    Hanya masih ada masalah lain yg rumit. Soalnya begini : Mestikah teologi berpangkal pada alkitab dan dari situ mendekati dan menyoroti pengalaman aktual ? atau sebaliknya : Mestikah teologi berpangkal pada pengalaman aktual dan dari situ mendekati dan menyoroti (isi) alkitab ? Pendekatan pertama berarti : Pengalaman aktual umat beriman ditafsirkan dgn pertolongan kitab suci (Bible to life ?). Sebaliknya : Dlm pendekatan kedua kitab suci ditafsirkan dgn pertolongan pengalaman aktual (Life to bible ?).

    Lama sekali pendekatan pertama menjadi lazim, tetapi akhir2 dlm teologi spekulatif (dan katakese) muncul suatu aliran yg memilih pendekatan kedua. Aliran itu diistilahkan sebagai teologi pengalaman dan sejalan dgn itu ada katekese pengalaman. Bahkan ada yg mulai berkata ttg teologi eksperimental, yg rupanya mau mengambil sebagai pola berteologi pola ilmu pasti alam.

    Hanya saja pendekatan “teologi pengalaman” berat sebelah dan karena itu tidak tepat. Teologi ini mau mengutamakan pengalaman dan seolah-olah mengangkatnya menjadi tolok ukur firman Allah yg tertulis. Padahal pengalaman itu sngt ambivalen, dwiarti dan polisemen. Pengalaman tentu mesti diartikan, tetapi mengizinkan pelbagai pengertian yg legitim. Pengalaman sendiri tdk dpt menjadi kunci penafsiran pengalaman itu. Dari mana umat beriman mengambil kuncinya? Kuncinya tdk bs tdk kecuali pengalaman serta tafsirannya dahulu, atinya : tradisi umat beriman. Mata rantai pertama dlm tradisi itu ialah pengalaman serta tafsiran spt tercantum dlm alkitab. Oleh umat sendiri mata rantai pertama itu dijadikan kanon artinya : tolok ukur, kunci penafsiran untk pengalamn selanjutnya. Hanya apabila teologi pengalaman menolak nilai teologis kanon alkitab, pengalaman aktual dpt diutamakan. Tetapi serentak pengalamn itu jatuh kembali dalam ambivalensinya. Tidak ada lagi jaminan bahwa iman umat benar2 mengenai sasarannya. Kalau nilai teologis kanon kitab suci diterima, maka pengalaman aktual terlebih dahulu ditafsirkan oleh alkitab. Kemudian barulah pengalamn aktual menolong untuk mengartikan firman Alah yg tertulis. Mulai berlangsunglah lingkaran hermeneutis.

    Tidak disangkal bhw umat dlm pengalaman aktual (dapat) mengalami Allah, yg karya penyelamatanNya merangkul seluruh sejarah. Tetapi tdk serta merta jelas, Allah yg bagaimana turut dialami dlm pengalamn aktual. Melalui pengalaman itu Allah memang (dapat) berfirman. Tetapi firmanNya itu serba kabur. Hanya Alkitab dapat menyingkapkan Allah yg bagaimana dialami dan apa yg difirmankanNya. Maka kunci penafsiran pengalamn ialah tradisi awal yg membeku dlm alkitab, dan kunci itu – asal diemngerti dgn tepat – tidak dicek oleh pengalaman iman aktual. Justru sebaliknya.

    dikutip dan diringkas dari :
    Dr.C.Groenen OFM,Soteriologi Alkitabiah,1989

    tks.

  18. Wah rame ya,… saya ingin sharing sedikit di forum ini tentang pertemuan pertama di Lingkungan Angela minggu lalu…hmm cukup menarik karena kita combine dengan bahan KAJ dan pengarahan Rm Dedo
    Kita bagi menjadi 2 tahap dimana tahap pertama kita ambil dari KAJ Mzm 51 dan bacaan dari KIS 2 : 41 – 47, Ulangan 849 dan Injil Matius 14 : 15 – 21.

    Tahap 2 pada renungan kita berdiskusi tentang siapa, apa dan penyebab kemiskinan. Disini semua peserta sepakat bahwa kemiskinan ada sebagai akibat dari dosa, dimana penyebabnya ketidak adilan,egoisme,iri, kekuasaan, keserakahan dan lainnya. Nah didalam masa Retret Agung ini, masa pertobatan bagaimana kita sungguh bisa aksi nyata sebagai wujud dari Tobat kita untuk mengentaskan kemiskinan dalam bentuk nyata memberikan dari kelebihan kita untuk membantu saudara/i yang berkekurangan.

    CUMI dan CUBG dilontarkan dalam forum ini namun terasa memberatkan bunga yang harus dibayarkan oleh peminjam dan titik terang kami peroleh akhirnya Lingkungan akan memberikan pinjaman kepada mereka yang sungguh mau untuk berusaha tanpa bunga. Dana akan diperoleh dari sumbangan warga yang terketuk hatinya sebagai wujud tobatnya ( catatan disini: yang memberi besar tidak berarti dosanya besar lho=) dan mereka yang meminjam harus juga disiplin mengembalikan sebagai wujud tobat mereka . Diskusi akan dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya. Setelah renungan kami lanjut dengan Doa Umat , Bapa Kami dan Penutup.

    Nah setiap kali masa Prapaskah sering kali dari hasil renungan/ pertemuan spiritnya hilang dengan berlalunya masa Prapaskah sehingga ujud konkrit nya tidak nyata dan kami sepakat mencoba untuk merealisasikannya kali ini. Semoga upaya ini bisa diterima oleh warga yang berhalangan hadir saat itu dan rencana baik ini dapat berjalan.

    Salam

  19. Terima kasih ibu Mary atas sharingnya, lingkungan mana lagi nih yg nyusul. dulu kita punya “Besan” tp kemudian menghilang, terus ada “Insan” (sepertinya jarang2 ada ya)mudah2an website ini dpt awet.

  20. Halo semua^_^ ternyata memang benar yg dikatakan Pak Sulas, lg rame euy..

    Berhubung Bu Mary sudah menyebut soal CUMI maka sy sedikit sharing.
    Sy memang mungkin masih dianggap kaum muda tp sejujurnya sy mendapat banyak pelajaran berharga dr praktek yg diprakarsai rekan2 di CUMI. Apakah ada yg tertarik untuk jadi relawan di CUMI?

    (Maaf,Mo, ikut promosi cari regenerasi hehe..^_^)

    salam hangat,
    asri.

  21. @Yanto.. saya memang bukan siapa-siapa, dan mungkin orang yang paling tidak punya suara di website St. Anna, dibanding anda, umat Katolik paroki yang tentunya lebih berperan dalam memberi sumbangsih besar di lingkungan. Semoga karya anda, sebagai seorang Katolik, semakin nyata bukan saja di forum online ini tetapi di dunia nyata di tempat anda berdomisili.

    @All, Saya mencoba melihat dari kacamata awam Katolik yang peduli dengan apa yang diusahakan oleh romo paroki anda, menanggapi 2 kritik tajam dari pak Ignatius Purba.

    Ini posting saya terakhir di topik ini.. dan saya tidak akan menanggapi hal lain terkait dengan diskusi antara gembala dan umat paroki santa anna.

    May God bless your steps…

  22. dear all,
    Saya pribadi menyayangkan Pak Johan ke luar dari diskusi ini. Justru sebagai outsider kita bisa mendapatkan suatu pandangan yang tidak memihak.
    Masalahnya sebetulnya simple. Sebagai pencetus dan melemparkan masalah, sudah seharusnya saya juga ikut bertanggungjawab.
    Bahan yang dibuat oleh Romo Dedo secara substansi sangat bagus. Apalagi dilengkapi dengan audio-visual yang amat inspiratif. Ini yang saya katakan merupakan paradigma baru dalam pertemuan2 Prapaskah selama ini. Di sisi lain, kita sudah terbiasa dengan Ibadat-Ibadat untuk mengisi masa Prapaskah ini.
    Dua hal ini sebenarnya tidak harus dibenturkan.
    Ada beberapa Lingkungan yang mencoba “mengkawinkan” dua metoda ini. Dan hasil ‘fine-fine’ saja.
    Mencoba mempertahankan metoda Ibadat, terkesan seolah-olah “menentang” gagasan Romo Dedo yang adalah gembala Gereja Santa Anna. Sebaliknya, mencoba “memaksakan” metoda yang dibuat oleh Romo Dedo, kok terkesan “romo-sentris”.
    Maka,
    untuk ke depannya perlu dicari metoda yang bisa menjadi sintese antara aksi konkrit dan ibadat yang hidup.

    Terima kasih.

  23. @ sdr Johan,
    Kalau anda msh melihat website ini, perlu saya sampaikan bahwa hak andalah untuk masuk dan keluar di topik ini sama seperti dgn pak Christ juga. Saya menghormati keputusan anda untuk tidak menanggapi diskusi antara gembala dan umat parokinya karena kalau kita lihat dari sisi yg lain, belum tentu pandangan anda tsb sesuai dgn pandangan romonya, kecuali anda berdua sudah konsultasi seblumnya.

    Selanjutnya mari kita lihat dari sisi pak Purba, wajar beliau bertanya karena hal PI ini adalah hal baru. Tetapi ia tdk mendapatkan jawaban, justru awam katolik yg notabene tdk mengikuti pertemuan yg menjawab. Bagaimana perasaannya ? Mengapa romo saya kok jauh sekali dari saya, padahal setiap minggu kita bertemu, apa salah saya ? Pertanyaan2 seperti ini akan memenuhi pikirannya.Tapi untuk apa dipikirin masalah dia, dia toh bukan siapa2 gembala bukan. ia hanya seorang umat yg biasa2 saja yg bertanya kepada romonya.

    May piece be with you my friend.

  24. Dear All,

    Sebetulnya sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan, bagi kami di Lingkungan Angela, lebih melihat pada esensi dari Masa Prapaskah yang merupakan retret Agung dan masa pertobatan dimana kita lebih peka melihat permasalahan disekitar kita baik itu kemiskinan/penderitaan maupun kesengsaraan yang disebabkan oleh ulah/dosa manusia. Bacaan-bacaan Injil ataupun Mazmur yang dibawakan lebih untuk membangun suasana holistic namun jauh lebih penting adalah spirit melaksanakannya dan aksi nyata, dimana kita sebagai umat Katolik secara umum perlu menyadari hal ini.
    Selamat beraktifitas.

    Salam,

  25. Kepada ibu Mary yg terkasih,

    Melihat dr kutipan rm groenen, mau tdk mau kita harus mengakui memang ada masalah dlm PI kita kali ini. Permasalahannya terletak pada metode yg dipakai.Dengan memakai metode dr sawah turun ke kitab suci (pak pomo) maka kita akan mengalami Allah yg masih kabur/ tdk jelas/samar2. Dalam bahasanya rm groenen , kita hanya sampai pada iman sejati tapi blm mengarah ke iman yg benar.

    Saya sebenarnya enggan menanggapi hasil PI dr kelompok maupun lingkungan tp mungkin ada baiknya juga kita sedikit mengulas PI di lingk. ibu mary sbg contoh mengingat hany ibu mary saja yng menginformasikan PI lingk.nya dgn cukup informatif.

    Lingk. ibu mary menggunakan Mat 14 : 15-21 dan Kis 2 : 41-47 dan dari pengalaman aktual (pengamatan terhadap kemiskinan) didapat kesimpulan bahwa kemiskinan ada disebabkan oleh dosa dimana penyebabnya dalah keserakahan, ketidakadilan dll.
    Mari kita bahas satu persatu :

    Kurang tepat (bkn tdk tepat !)bila dikatakan kemiskinan disebabkan oleh dosa karena ada kemiskinan yg disebabkan faktor lain mis : pendidikan yg terbatas, sda yg terbatas dll.Lebih tepat bila kita katakan bahwa akibat dari dosa adalah kemalangan (kemiskinan) dan kita dpt memakai Luk 15 :11-32 mengenai anak yg hilang utk sampai pada kesimpulan tsb.

    Selanjutnya kita melihat pada ayat yg digunakan.Mari kita lihat Mat 14: 15-21 isinya tentang Yesus memberi makan lima ribu orang meman disitu ada diceritakan mengenai kasih dan penyembuhan tetapi intinya adalah pemecahan roti menjadi banyak sehingga cukup untuk semua orang. tafsiran yg umum mengenai perikop ini adalah sbagai gambaran ekaristi, peristiwa manna di padang gurun. Tapi kita harus menghubungkannya dgn kemiskinan dan dosa bagimana caranya ? gampang ! mari kita tafsirkan bahwa sebenarnya pada saat itu tdk terjadi mukjizat tapi ada seorang anak yg mempunyai roti yg berlebih yg diserahkan kepada salah seorang murid Yesus dan oleh murid tsb diambil secukupnya untuk dirinya sendiri dan sisanya diserahkan kepada org lain. melihat hal ini banyak org mempunyai roti yg berlebih tersentuh hatinya dan melakukan hal yg sama sehingga akhirnya semua mendapatkan bagian.Jadi disini kita bisa memetik pelajaran yaitu apabila kita mau membagi dengan sesama kita maka kita dapat melawan kemiskinan sehingga kita semua terluput dari dosa (keserakahan, egoisme dll.). Rasa2nya tafsiran ini cukup bagus . (gr nih ye)
    Tapi sebenarnya tdk bagus sama sekali karena yg saya lakukan adalah memanipulasi perikop Mat 14 :15-21 supaya dpt masuk pada kesimpulan saya.Karena sdh terlalu panjang tdk perlu kita bahas Kis 2: 41-47.

    Jadi disitulah letak permasalahannya ibu mary, dengan metode itu ada kecenderungan kita memanipulasi kitab suci.

    Tapi jika ibu mary tdk menganggap hal ini bermasalah dan justru cara tsb dapat lebih membawa umat kearah suatu aksi nyata iya enggak apa2 . Karena memang acuan kita dalam membaca kitab suci di santa anna adalah kalau kita merasa fine 2 saja maka lanjutkan terus.

  26. Mohon penjelasan tentang kedudukan Ketua Stasi, apakah Ketua Stasi juga sebagai koordinator wilayah, karena dalam hirarki organisasi yang berhak memberikan tugas-tugas seharusnya langsung dari Romo Ketua Paroki, bukan Ketua Stasi. Mohon penjelasan , agar para ketua wilayah dalam membuat laporan tugas Panitia Paskah dan Natal tidak membingungkan. terimakasih

  27. Mohon Penjelasan tentang pelaksanaan Misa Jumat Agung, apakah pelaksanaan cium salib bisa dijadikan satu dengan Komuni, yang ke dua, kami mengikuti misa paskah yang dilaksanakan pada jam 19.00 – 21.00 , setelah selesai Misa kami mengucapkan Selamat Paskah kepada Romo, tetapi Romo mengatakan bahwa belum boleh mengucapkan Selamat Paskah oleh Romo tersebut, dengan alasan yang tidak jelas, lalu kami coba konvismasi dengan Romo lain, ternyata jawabannya tidak sama, jadi boleh mengucapkan selamat Paskah, karena pada akhir misa Romo mengucapkan Misa paskah telah seslesai. Jadi umat menjadi binggung, mohon penjelasannya Romo ? Terimakasih

  28. Terimakasih kepada Romo & dan Ketua Stasi Yoakhim atas perhatiannya mengenai pertanyaan tersebut diatas, namun kami berharap hal ini bisa diterima sebagai masukan dan tetap positif thinking , pertanyaan – pertanyaan kami ini timbul justru agar ada perubahan dan meminimize masalah-masalah yang sering terjadi disetiap wilayah yang dipercaya dalam pelaksanaan kepanitiaan hari besar di Gereja Stasi . Dan mohon di catat bahwa umat di St. Yoakhim sampai saat ini masih mengedepankan azaz kekeluargaan dan gotong royong, jadi pertanyaan di atas mohon bisa untuk bahan evaluasi ke depan , agar langkah kita bersama menjadi lebih baik dan diberkati Tuhan. Terimakasiih

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>