Apakah Kamu Bahagia?

Apakah Kamu Bahagia?
Minggu Keenam Tahun C – Luk 6:17, 20-26

Ketika saya baru saja tiba di Jakarta 10 tahun lalu untuk memulai studi Filsafat, seorang Romo bertanya “Apakah kamu bahagia?”. Saat itu, dini hari dan mataharipun belum terbit, saya begitu lelah setelah 10 jam perjalanan dengan kereta api malam dari Yogya, saya tidak dapat menjawab dengan spontan. Saya terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Namun pertanyaan itu muncul dan muncul lagi dalam benak saya jauh, juga jauh setelah waktu itu berlalu. Apakah kamu bahagia?

Sekarang, ijinkan saya mengajukan pertanyaan yang sama pada Anda. Apakah Anda bahagia? Dapatkah Anda dengan cepat menjawab pertanyaan itu, atau apakah Anda butuh waktu berpikir? Apakah Anda siap untuk bangkit mewartakan kabar baik-bahwa Anda bahagia- atau masih sibuk dengan perkara-perkara diri sendiri? Kalau Anda tidak bahagia, mengapa Anda tidak bahagia? St Agustinus menulis, “Engkau menciptakan kami bagiMu O Tuhan, dan hati kami tak kan pernah tenang hingga kami beristirahat padaMu”. Jika Anda merasa kekurangan sesuatu yang menghalang-halangi untuk merasakan kebahagiaan sepenuhnya, bisa jadi itu tanda bahwa Allah memanggil Anda untuk memasuki hubungan yang lebih mendalam denganNya. Bisa jadi itulah cara kita mencapai pemahaman yang lebih baik tentang sumber kebahagiaan dan kesedihan kita.

Hari ini Yesus menantang kita untuk memeriksa pemahaman dan sikap kita terhadap kebahagiaan kita. Dalam bacaan pertama, Yeremia mengkontraskan situasi penuh beban mereka yang mengandalkan kekuatan manusia dengan situasi terberkati dari mereka yang percaya sepenuhnya pada Allah. Yesus maju lebih jauh lagi. Ia mengundang kita untuk melihat, dalam situasi kekuranganlah kita ditarik untuk memandang melampaui diri sendiri. Apa yang tidak kita miliki, membuka diri kita terhadap relasi dengan komunitas dan dengan Tuhan. Maka kita akan mengerti, tidak hanya dengan budi kita namun juga dengan hati kita, bahwa kita adalah bagian dari kesatuan satu sama lain, bahwa kebahagiaan sejati kita datang dari kasih yang kita terima dan kita beri satu sama lain, khususnya dalam kesadaran hubungan dengan Tuhan. Kita bahagia hanya dalam Tuhan karena kita diciptakan untuk Dia, karena Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Ada sebuah cerita tentang seseorang yang memutuskan untuk menyerah dalam hidupnya. Ia keluar dari pekerjaannya, mengacuhkan segala hubungan persaudaraan dan pertemanan, Ia meninggalkan imannya. Dia ingin mengakhiri hidupnya. Pergilah ia ke hutan untuk berbicara terakhir kalinya dengan Tuhan. “Tuhan”, katanya, “Dapatkah Engkau memberiku satu saja alasan kuat untuk tidak menyerah?” Jawaban Tuhan mengejutkannya. “Lihatlah sekelilingmu”, sabda Tuhan, “Kamu lihat pohon pakis dan bambu itu?”. “Ya”, jawabnya. Tuhan pun bersabda “Ketika Aku menanam benih pakis dan bambu, Aku sangat memperhatikan mereka. Aku memberi mereka cahaya. Aku memberi mereka air. Pakis dengan cepat tumbuh dari bumi. Daunnya yang hijau cemerlang segera menutupi bumi. Namun tidak ada yang keluar dari benih bambu. Tetapi aku tidak menyerah. Dalam tahun kedua, pakis bertumbuh makin lebat dan berlipat ganda. Lagi, tidak ada yang keluar dari benih bambu. Tetapi aku tidak menyerah. Hal yang sama dengan tahun ketiga, juga tahun ke empat. Lalu di tahun kelima, tunas mungil mencuat dari bumi. Dibanding pakis, Nampak kecil dan tak berarti. Tetapi, enam bulan kemudian, bambu tumbuh lebih dari 3 meter tingginya. Sesungguhnya, sang bambu melewatkan 5 tahun pertamanya untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itulah yang membuatnya kuat dan memberinya apa yang diperlukan untuk bertahan. Aku tidak akan memberi ciptaanKu tantangan yang tak mampu ia hadapi. Tidak tahukah engkau anakKu, bahwa sepanjang waktumu bergulat dengan persoalan hidup, sesungguhnya engkau menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak pernah putus asa dengan bambu. Aku tidak akan pernah putus asa dan menyerah denganmu. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu punya tujuan lain dari pakis. Meski demikian, keduanya membuat hutan ini indah. Waktumu akan tiba, kamu akan bertumbuh tinggi”.

“Seberapa tinggi aku akan tumbuh?” Tanya orang itu. “Seberapa tinggi bambu akan tumbuh?”, Tuhan balik bertanya. “Setinggi dia mampu?” ujar orang itu. “Ya”, sabda Tuhan, “Muliakanlah Aku dengan tumbuh setinggi kamu mampu”. Orang itu meninggalkan hutan, menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah putus asa dengan dirinya. Dan Tuhan tidak akan pernah menyerah dengan Anda. Jangan pernah menyesali hari-hari dalam hidupmu. Hari-hari baik memberi Anda kebahagiaan; hari-hari buruk memberi Anda pengalaman; keduanya penting dan mendasar bagi kehidupan. Ketenangan bukanlah kebebasan dari badai, tetapi kedamaian dalam badai. Kedamaian yang muncul dari kedalaman relasi dengan Tuhan yang jadi andalan kita. Silahkan membawa pertanyaan tadi dan jawablah sewaktu-waktu Anda suka: Apakah Anda bahagia?

AM Ardi Handojoseno SJ – homili aslinya dalam bahasa Inggris diwartakan dalam misa di Gereja Star of the Sea, North Sydney 14 Pebruari 2010

4 Responses to “Apakah Kamu Bahagia?”

  1. Dear Rm ardi,

    Terus terang bagi saya pertanyaan yang tidak mudah dijawab : “Apakah anda bahagia?” meskipun petanyaan nya sederhana namun sulit untuk menjawabnya,butuh pemahamanan yang lebih mendalam dan mendasar, memang dibutuhkan hubungan yang lebih mendalam dan dekat dengan Dia, Sang Pencipta yang mempunyai rencana dan tujuan dalam menciptakan setiap manusia.
    Thanks for sharing utuk pohon Pakis dan Bambu nya, sering-sering posting di web St Anna ya Rm, selamat bertugas and all the best

  2. Romo Ardy,

    Apakah saya bahagia? Jujur,saya dpt menjawab,bhw saya bahagia dgn kondisi saya saat ini,dibandingkan dgn saya yg dulu. Dulu,saya tdk memiliki rasa takut,malah tll berani,dulu sy tdk punya rasa cemas,malah tll cuek. Apa yg sll saya inginkn sll dikabulkan Tuhan,dan sy jd orang yg lupa diri dan tdk tau bersyukur.Sll mcari2 keluar kebahagian,yg ternyata hny kebahagiaan Semu dan sementara. Yg sebenarnya kebahagiaan ada di dalam diri ini.

    Tp sekarang,dgn kondisi saya yg tidak sesempurna dulu,saya dpt merasakan arti bahagia yg sebenar2nya. Di mana sy dpt brdoa dgn Tuhan,bukan hny ucapan kata2 sj,tp dr kedalaman hati yg sungguh2.Di mana ktika memberi bantuan kpd saudara,dpt dgn iklas,tnp menuntut balas,dan kita jg dpt mrasa bahagia dapt menolongnya.

    Justru di dlm kekurangan dan kelemahan saya saat ini,saya dpt lebih Menyadari arti Hidup ini,Kebahagiaan dan kedamaian dpt sy rasakan dr dlm hati ini. Pergumulan hidup justru mbuat kita semakin kuat dan dekat Tuhan,tapi tentu dgn kita mau Menyadari Diri ini,bukan mencari Pelarian keluar diri..yg pada akhirnya membuat capek sendiri dan hanya kebahagiaan semu sj.

    Thanks ya Mo. Selamat bertugas, salam dari Sahat.

    Aida

  3. Apa itu bahagia ?, apakah bahagia identik dgn kesenangan ? apakah kita bisa melalui hari2 buruk dengan kebahagiaan ? Elisabet berkata kepada Maria ketika dia mengunjunginya “Bahagialah engkau, karena percaya bahwa apa yg dikatakan Tuhan kepadamu itu akan terjadi!” (Luk 1:45)
    Yesus mengajar mengenai kebahagiaan yg sejati (Mat 5: 3-11).
    Apakah aku bahagia ? ehm gimana ya…………

  4. wow, sudah ada homilinya Romo euy^_^

    Terima kasih renungannya, Romo.
    em, bahagia atau sedih bukankah selalu seiring sejalan? mengutip kata mutiara salah satu orang kudus muda usia yang akhir tahun lalu, baru saja dikukuhkan menjadi santo, “cukup, hanya DIA saja”, ya, saat ini, saya bahagia, Romo Ardi.

    salam.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>