Apa artinya “setia dalam suka dan duka”?

Salam Romo,

Saya memiliki beberapa pertanyaan berikut:
1. Apabila suami saya tidak berusaha/tidak mau mempertahankan rumah tangganya lagi, apakah pernikahan msh bs diselamatkan?
2. Dalam perjanjian pernikahan diucapkan “tetap mencintai baik suka maupun duka”. Apa makna kata ‘duka’ tsb? Apakah maksudnya bila terjadi KDRT (fisik/non fisik) kita harus tetap berusaha memaafkan kesalahan pasangan dan tetap mencintainya?
3. Sy selalu memaafkan suami dg pemikiran, org yg tulus mencintai pasti akan mampu mengubah perilaku negatif seseorang. Tp suami slalu mengecewakan. Dia bahkan menganggap hidup sy terlalu lurus. Apakah sy harus slalu mengerti dan mengalah? Apakah romo bisa memberi saran krn sy kadang kelelahan jg menghadapinya?
4. Bagaimana berdamai dengan hati yg tersakiti oleh perselingkungan suami (hingga berhubungan intim) dengan wanita lain. Apalg perselingkungan itu terjadi saat sy msh hamil dan berlangsung hingga anak sy skr berumur 2.5 th. Itu pun krn ketahuan oleh saya tanpa sengaja.

Terima kasih sebelumnya,
Regina

2 Responses to “Apa artinya “setia dalam suka dan duka”?”

  1. 1. Apabila suami saya tidak berusaha/tidak mau mempertahankan rumah tangganya lagi, apakah pernikahan msh bs diselamatkan?

    JAWAB : Mengapa ia tidak mau mempertahankan pernikahan ?
    usaha apa saja yang sudah dilakukan ?

    2. Dalam perjanjian pernikahan diucapkan “tetap mencintai baik suka maupun duka”. Apa makna kata ‘duka’ tsb? Apakah maksudnya bila terjadi KDRT (fisik/non fisik) kita harus tetap berusaha memaafkan kesalahan pasangan dan tetap mencintainya?

    JAWAB : memaafkan ya.. mencintai-nya kembali ada suatu usaha dan mungkin juga sangat sulit dilakukan… tetapi bila KDRT itu membahayakan keselamatan jiwa dan/atau mengganggu psikis dan moral anda dan anak, maka anda dan anak anda yang tidak bersalah boleh mengajukan untuk hidup terpisah (Tidak tinggal serumah) dari suami anda. Mencintai orang yang telah menyakiti kita bukanlah hal yang mudah, terutama karena rasa percaya dan aman telah memudar bahkan hilang. Jadi tidak ada paksaan dalam hal ini. Yang perlu dipertimbangkan adalah apakah worth it enough..apakah cukup layak untuk mencobanya demi anak anda..

    3. Sy selalu memaafkan suami dg pemikiran, org yg tulus mencintai pasti akan mampu mengubah perilaku negatif seseorang. Tp suami slalu mengecewakan. Dia bahkan menganggap hidup sy terlalu lurus. Apakah sy harus slalu mengerti dan mengalah? Apakah romo bisa memberi saran krn sy kadang kelelahan jg menghadapinya?

    JAWAB : apa dasar pernikahan kalian sebelumnya ? saling cinta ? seberapa jauh anda mengenalinya sebelum akhirnya memutuskan menikahi pria yang sekarang menjadi suami yang mengecewakan dan menyakiti anda ini ?

    4. Bagaimana berdamai dengan hati yg tersakiti oleh perselingkungan suami (hingga berhubungan intim) dengan wanita lain. Apalg perselingkungan itu terjadi saat sy msh hamil dan berlangsung hingga anak sy skr berumur 2.5 th. Itu pun krn ketahuan oleh saya tanpa sengaja.

    JAWAB : pertanyaan ini hanya anda yang bisa menjawab..

    pertanyaan saya : siapkah anda hidup menjadi orang tua tunggal baik secara moral dan finansial.

    Saya sarankan untuk sementara sebaiknya anda tidak tinggal serumah dengan suami anda, carilah tempat dimana anda bisa menenangkan diri dan berkonsentrasi kepada anak anda dan masa depannya. Carilah dukungan sebanyak-banyaknya terutama dari keluarga anda. Jangan biarkan pikiran2 ini menguasai anda sehingga anda sulit berkonsentrasi membuat rencana untuk masa depan dan kesejahteraan anak anda. Jangan sampai hal itu mempengaruhi fisik anda, karena hal itu akan merugikan bukan saja bagi diri anda tetapi anak anda.
    Untuk sementara coba keluar sejenak dari pertanyaan2 itu, dan berhenti untuk memikirkan suami anda dan perbuatan2nya. Jangan ego anda menguasai diri anda sehingga anda melupakan bahwa kini anda memiliki seorang anak yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya,dan dalam hal ini, tampaknya anda-lah yang ia butuhkan.
    Anda membutuhkan semua resource yang ada untuk situasi terburuk.

    anda bisa menemui konselor pernikahan, atau pastor paroki untuk menceritakan kondisi anda.setidaknya mungkin ini dapat melegakan anda sesaat. Dan memang tanpa kesadaran dan pertobatan dari suami anda, rekonsiliasi akan semakin sulit dilakukan. Karena hal itu membutuhkan komitmen dari anda dan juga suami anda.

    Untuk sementara itu dulu

    May God bless you and protect you and your child…

  2. Mungkin anda sudah mengalami peak point sehingga anda ingin membagi cerita & meminta advice dari orang lain. Itu sangat wajar. You can relief yourself.

    Apa yg Ibu alami emang dahsyat…tapi Ibu saya juga mengalami hal yg tak kalah dahsyat…hehehe2 aduh dahsyat ya…!?

    Sebagai sharing, Ibu saya pernah mengalami KDRT sewaktu saya belum mengerti apa2 karena kecil(TK). Hanya bisanya menangis melihat Ibu saya menjadi obyek kemarahan ayah saya. Karena tidak tahan, ia keluar dari rumah meninggalkan saya & Ibu saya sempat hidup sendiri(kami saling komunikasi meski diam2). Itu terjadi sewaktu saya masih SD kelas 5, tindakan ibu saya dukung sepenuh hati karena dengan cara itu ia bisa terbebas dari kukungan ayah saya yg kalau marah spt kesetanan. Keselingkuhan, minuman keras, main golf seharian, pulang malam, kdrt (meski ibu saya sering melawan dengan terpaksa pake sapu & dll) adalah pekerjaan keseharian ayah saya. Bagaimana mungkin Ibu saya tahan melihat kelakuan ayah saya yg semau gue…!?

    Anehnya setelah Ayah saya ditinggalkan Ibu saya (bersifat sementara), ayah saya yg super-ego itu bisa menangis & tampak menyesali perbuatannya. Kalo tidur, Ia bahkan memeluk baju tidur Ibu saya karena mungkin rindu dengannya…Pendek cerita ayah saya achirnya menyadari kesalahannya & mencoba rekonsiliasi dengan ibu saya…meski butuh waktu yg panjang.

    Saya sejak kecil menyaksikan drama kehidupan rumah tangga yg cukup tragis. Secara naluriah saya yg relatif kecil bersumpah pada diri sendiri untuk tidak membawa kepedihan & kepahitan kehidupan dalam rumah tangga sehingga kepada anak2ku kelak dapat tumbuh dengan damai2 saja.( Drama kehidupan org tua saya menginspirasikan saya utk tidak asal2 atau sembarangan dalam membina rumah tangga yg sakral…)

    Orang tua laki saya adalah manusia dengan kekayaan lumayan yg cukup (sempat OKB),bertampang ganteng banyak cewek yg mendekati, pandai dalam berorganisasi apalagi berpidato. Aktif di organisasi keagamaan non kristen tapi kalau keluar negeri kelakuannya nol besar & nafsu kebinatangan yg menguasai dirinya. belakangan Ibu saya mengetahui bahwa Ayah saya memiliki isteri2 di luar negeri dengan anak2 lebih dari 10 (sepuluh) kalo di total! Itu semua tanpa setahu Ibu saya. Ketahuannya setelah melahirkan saya !!!

    Maaf cerita saya jadi panjang, apa yg ingin disampaikan adalah bahwa Tuhan yg mengatur semesta alam itu tahu setiap persoalan dalam kehidupan kita. Ia juga tentu punya jawaban buat kita. Tetapi selama singgahan di dunia yg fana, Tuhan membiarkan kita melakoni peranan sebagai manusia sesuai kehendak manusia dengan akal & budi. Bila salah jalan Tuhan akan membawa kita pada Jalan sesuai KehendakNya. Ora et Labora, mengalir saja spt air, biar Tuhan yg atur kita, andalkan Tuhan dalam setiap momen dengan sadar. Berdoa dengan kata2 bukan dengan keheningan, Tuhan ingin kita ekpresikan permohanan kita kita dengan kata2. Kalau hidup sadar ok dengan keheningan tapi dialog dengan Tuhan pake pikiran yg tulus & polos bagai anak2 kecil.

    Bagikan kasih Allah kepada sesama, move ! Jangan diam….Bu !

    Oh…maaf sharing saya hanya sepotong saja, & saya tidak menganjurkan ini & itu tapi percayalah penyelenggaran Tuhan itu pasti & pasti berachir dengan baik ! Yg penting Ibu Regina teteuuup steady & tempuhlah jalan yg Ibu berfikir yg terbaik ! Gagalpun pasti ada hikmah & andalkan Yesus selalu ! Good Luck !~

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>