<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Pengalaman meditasi (1): Memahami kemarahan</title>
	<atom:link href="http://gerejastanna.org/719/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejastanna.org/719/</link>
	<description>Situs Resmi Gereja St. Anna - Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 06:57:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Sudrijanta</title>
		<link>http://gerejastanna.org/719/comment-page-1/#comment-1925</link>
		<dc:creator>Sudrijanta</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 10:59:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=719#comment-1925</guid>
		<description>Membaca pengalamanmu, agaknya kamu mulai bisa membedakan dua macam energi.Yang pertama adalah energi yang bersumber dari kesadaran-diri (self consciousness) yang bermanifestasi dalam gerak pikiran, perasaan, keinginan dst. Energi ini kita butuhkan untuk survival. Dari sinilah kemarahan mendapatkan energinya.

Yang kedua adalah energi yang tidak bersumber dari otak atau batin, tidak ada hubungan dengan pikiran dan emosi. Energi yang kedua ini kita alami ketika otak diam, atau pikiran dan emosi tidak bergerak.

Ketika otak atau batin diam, kamu merasakan seperti mayat hidup. Pikiran dan emosi, kehendak atau keinginan tidak lagi menjadi pusat tindakan. Tindakan bukan lagi sebagai reaksi dari pusat diri, tetapi mengalir dengan sendirinya.

Berkaitan dengan kemarahan, agaknya kemarahan itu merupakan suatu energi yang muncul untuk survival diri. Kemarahan sebagai kemarahan tidak menimbulkan problem spikologis selama tidak ada resistensi, penilaian, pengharusan, dst. Selama kita didera oleh kemarahan, maka sebenarnya di situ sudah ada resistensi.

Ketika kemarahan itu disadari tanpa pusat diri (tidak melawan, tidak menilai, tidak mengharuskan dst) maka, kamu merasakan kemarahan tidak menimbulkan problem psikologis apapun. Bahkan kamu bisa menertawakan. Ia bagaikan angin lewat saja.

Di sinilah pentingnya membiasakan diri untuk melihat segala sesuatu dari titik keheningan atau batin yang kosong. Dari sini ada pemahaman lengkap dan muncul tindakan seketika dan tindakan itu pasti benar.

Pada moment apa Yesus mengosongkan diri? Saya melihat ada dua moment besar. Pertama saat inkarnasi: Yesus meninggalkan kehidupan dalam inti-keilahian dengan memasuki keadaan manusiawi. Kedua, saat di salib: Yesus menyerahkan diriNya atau nyawaNya secara definitif.

Selamat melanjutkan perjalananmu dalam keheningan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca pengalamanmu, agaknya kamu mulai bisa membedakan dua macam energi.Yang pertama adalah energi yang bersumber dari kesadaran-diri (self consciousness) yang bermanifestasi dalam gerak pikiran, perasaan, keinginan dst. Energi ini kita butuhkan untuk survival. Dari sinilah kemarahan mendapatkan energinya.</p>
<p>Yang kedua adalah energi yang tidak bersumber dari otak atau batin, tidak ada hubungan dengan pikiran dan emosi. Energi yang kedua ini kita alami ketika otak diam, atau pikiran dan emosi tidak bergerak.</p>
<p>Ketika otak atau batin diam, kamu merasakan seperti mayat hidup. Pikiran dan emosi, kehendak atau keinginan tidak lagi menjadi pusat tindakan. Tindakan bukan lagi sebagai reaksi dari pusat diri, tetapi mengalir dengan sendirinya.</p>
<p>Berkaitan dengan kemarahan, agaknya kemarahan itu merupakan suatu energi yang muncul untuk survival diri. Kemarahan sebagai kemarahan tidak menimbulkan problem spikologis selama tidak ada resistensi, penilaian, pengharusan, dst. Selama kita didera oleh kemarahan, maka sebenarnya di situ sudah ada resistensi.</p>
<p>Ketika kemarahan itu disadari tanpa pusat diri (tidak melawan, tidak menilai, tidak mengharuskan dst) maka, kamu merasakan kemarahan tidak menimbulkan problem psikologis apapun. Bahkan kamu bisa menertawakan. Ia bagaikan angin lewat saja.</p>
<p>Di sinilah pentingnya membiasakan diri untuk melihat segala sesuatu dari titik keheningan atau batin yang kosong. Dari sini ada pemahaman lengkap dan muncul tindakan seketika dan tindakan itu pasti benar.</p>
<p>Pada moment apa Yesus mengosongkan diri? Saya melihat ada dua moment besar. Pertama saat inkarnasi: Yesus meninggalkan kehidupan dalam inti-keilahian dengan memasuki keadaan manusiawi. Kedua, saat di salib: Yesus menyerahkan diriNya atau nyawaNya secara definitif.</p>
<p>Selamat melanjutkan perjalananmu dalam keheningan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
