Pengalaman meditasi (1): Memahami kemarahan
Romo, akhir tahun 2009 yang lalu saya kembali menghadapi kejadian masa lalu yang terulang kembali. Saat kejadian ini terjadi, muncul satu kemarahan yang luar biasa, meski kemarahan ini tidak bertahan lama berkat bantuan dari gerakan yang muncul entah darimana (bisa jadi muncul dari dalam atau gerakan ini datang dari luar), yang saat itu gerakan ini sangat kuat sehingga bisa meredam kemarahan yang luar biasa itu.
Meski tidak bertahan lama, kemarahan itu muncul lagi dan gejolaknya semakin kuat. Saat gejolaknya semakin kuat, saya tidak kuasa lagi untuk menahan, seolah2 bantuan gerakan semula yang pernah ada sudah hilang/pergi. Dalam keadaan tidak kuasa itu, saya hanya diam (pasrah) sambil berusaha menenangkan diri dengan mengatur nafas, tetapi tetap saja gejolak kemarahan itu semakin kuat, sampai2 saya pada saat itu mulai mengutuk2 keadaan yang sedang terjadi dan berkomunikasi dengan Yang Kuasa (seperti biasa) dengan mengatakan bahwa jika memang kemarahan ini tidak berkenan di hadapanNYA, maka saya pun bersedia untuk menerima neraka jika waktuNYA sudah tiba (anehnya, saat itu saya tidak ada keinginan untuk bunuh diri loh mo…=D) bahkan jika waktuNYA saat itu juga, saya siap menerima neraka dalam bentuk apa pun.
Entah berapa lama saya berada dalam keadaan labil pada saat itu, yang pasti, saat itu saya hanya diam tak bergerak secara jasmani, namun dalam hati saya meraung2 untuk minta supaya saat itu saya dimasukkan ke dalam neraka yang telah disiapkanNYA (jika memang demikian). Sampai akhirnya saya bangun di pagi hari menjelang siang, saya masih saja berkomunikasi denganNYA dengan mengucapkan “Loh, kok belum datang2 ya nerakaNYA…jangan2 kehidupan ini adalah neraka yang disiapkan untukku…Ok lah klo begitu, aku akan terima neraka ini…terserah padaMU mau memberikan neraka seperti apa untukku, aku siap menerimanya klo memang neraka itu untukku”
Alhasil, sejak hari itu hingga bertahan beberapa hari lamanya (saya sudah lupa mo kapan berakhirnya…) gejolak kemarahan masih tetap tinggal seolah2 telah menjadi kekuatan saya untuk menerima keadaan kehidupan yang sudah saya anggap sebagai neraka (yang jelas, dalam keadaan seperti ini, bagi saya neraka sudah menjadi hal yang tidak menakutkan lagi).
Akan tetapi, entah sejak kapan (lagi2 saya lupa), saya merasakan keanehan (aneh karena saya heran dan tidak mengerti) dalam menjalani kehidupan yang telah dianggap sebagai neraka (saat itu). Aneh karena gejolak kemarahan yang tadinya muncul sudah tidak menyiksa lagi, padahal dia masih tinggal di dalam sini. Malah yang tadinya gejolak kemarahan sebagai kekuatan untuk menerima neraka, kini menjadi energi yang luar biasa kuat untuk bertahan dalam keadaan apa pun (bahkan neraka sekali pun) lalu energi yang luar biasa itu sekarang seolah2 bergerak semaunya sendiri sampai2 saya terheran2 kok bisa saya melakukan hal yang belum pernah saya lakukan.
Yang lebih mengherankan lagi, kok gerakan energi itu membawa saya melakukan hal2 yang baik ya mo bukan menjatuhkan saya ke dalam kegelapan (contohnya kegelapan, saya melakukan perbuatan cabul atau mencuri atau kabur dari rumah atau hal lain yang dianggap sebagai neraka). Padahal, sewaktu saya masih dikuasai kemarahan, saya memutuskan untuk lari sekencang mungkin dariNYA supaya saya bisa masuk ke dalam neraka segera. Tetapi kenyataannya tidak, saya malah dibawa ke misa pagi (meski dalam misa, saya jarang mengikuti jalannya ekaristi karena sepertinya saya dibawa ke dalam keadaan yang saya tidak kenal namun sangat membantu saya untuk mengenal semua kejadian yang pernah terjadi bahkan mengenal gejolak kemarahan yang pernah muncul itu).
Sekarang ini, saya menjadi sangat membutuhkan misa pagi (sebelum melakukan aktivitas kantor atau memulai hari yang baru) karena dalam misa (tidak hanya misa pagi saja) saya dibawa masuk ke dalam keadaan yang tak dikenal dimana dalam keadaan itu saya bisa berbincang2 denganNYA.
Selain dibawa ke misa pagi, gerakan sehari2 yang saya rasakan sepertinya berbeda dari sebelumnya, termasuk gerakan pikiran dan hati (emosi). Saat ini, dalam keadaan apa pun saya sudah tidak lagi bisa bergerak sendiri untuk merespon keadaan apa pun, bahkan jika kemarahan muncul karena keadaan tertentu, saya sekarang malah mentertawakan keadaaan itu hingga kemarahan pun menjadi tidak mengusik lagi.
Romo, sebelumnya saya belum pernah mengalami gejolak kemarahan yang sangat kuat seperti itu dan keadaan saya sekarang ini bisa dibilang seperti mayat hidup karena memang sepertinya saya bergerak bukan atas kehendak sendiri (soale klo atas kehendak sendiri, saya pasti akan memilih gerak lain yang saya suka dan inginkan).
Romo, apakah hidup dalam keadaan mayat hidup seperti ini sama dengan tidak sadar atau kah bagaimana ya mo? Lalu, keadaan saya sewaktu gejolak kemarahan muncul di waktu yang lalu (dalam keadaan yang diceritakan di atas), apakah hal yang wajar ataukah pengaruh dari dalam diri yang “ternyata masih terluka” atau bagaimana ya mo?
Jujur mo, kehidupan yang awal tahun lalu saya anggap sebagai neraka sekarang telah menjadi sekedar persinggahan saja sehingga yang saya lakukan saat ini terbaik hanya untuk saat ini saja dan apa pun yang terjadi saat ini…ya hanya untuk saat ini saja…selayaknya persinggahan, tidak mungkin untuk kembali ke satu detik yang lalu dan harus segera lanjut ke detik berikutnya…
Fyi mo, saya yang dulu adalah saya yang mungkin bisa dibilang konyol, cengeng dan manja…paling ga bisa jika harus berhadapan dengan hal2 yang tidak disukai atau menyakitkan…kalo dipaksa untuk berhadapan yang seperti itu, maka saya selalu menyendiri dan pasti dech punya keinginan untuk bunuh diri…konyol khan mo…
Sekarang aja saya merasa geli membaca kembali cerita yang diuraikan di atas, tetapi itu adalah kenyataan yang telah terjadi dan saya mencoba untuk tidak menghiraukan, hanya saja dalam hati selalu bertanya2 dan terheran2 kenapa bisa seperti itu ya. Jika keadaan seperti itu kembali datang, kira2 apa yah yang baiknya saya lakukan?
Hih…ngeri dech mo saya ngebayangin seandainya saat itu saya benar2 jatuh dalam kegelapan…ga kebayang seperti apa saya dalam keadaan yang gelap itu…
Romo, tolong arahannya ya supaya saya semakin dekat denganNYA dan tidak menjebloskan diri ke dalam kegelapan. Oya mo, sejak saya mendengar arahan romo yang pakai gambar lingkaran (apa sich judulnya mo…kok saya nda pernah bisa ingat ya judulnya…hehe), rasa2nya saya bisa masuk sampai dengan tahap yang satu lingkaran…tetapi jika tahap yang benar2 kosong, saya tidak tahu, mungkin pernah mungkin juga belum…kira2 keadaan seperti itu contohnya seperti apa ya mo? Kalau dalam contoh kasus kehidupan Yesus sebagai manusia, pada saat DIA seperti apa ya mo jika DIA berada dalam tahap yang benar2 kosong?
Sekian dulu ya mo dari saya. Mohon berkenan memberi pengarahan.
Terima kasih romo atas perhatiannya terutama atas pengarahan yang romo berkenan berikan
Cheers,
NN







Membaca pengalamanmu, agaknya kamu mulai bisa membedakan dua macam energi.Yang pertama adalah energi yang bersumber dari kesadaran-diri (self consciousness) yang bermanifestasi dalam gerak pikiran, perasaan, keinginan dst. Energi ini kita butuhkan untuk survival. Dari sinilah kemarahan mendapatkan energinya.
Yang kedua adalah energi yang tidak bersumber dari otak atau batin, tidak ada hubungan dengan pikiran dan emosi. Energi yang kedua ini kita alami ketika otak diam, atau pikiran dan emosi tidak bergerak.
Ketika otak atau batin diam, kamu merasakan seperti mayat hidup. Pikiran dan emosi, kehendak atau keinginan tidak lagi menjadi pusat tindakan. Tindakan bukan lagi sebagai reaksi dari pusat diri, tetapi mengalir dengan sendirinya.
Berkaitan dengan kemarahan, agaknya kemarahan itu merupakan suatu energi yang muncul untuk survival diri. Kemarahan sebagai kemarahan tidak menimbulkan problem spikologis selama tidak ada resistensi, penilaian, pengharusan, dst. Selama kita didera oleh kemarahan, maka sebenarnya di situ sudah ada resistensi.
Ketika kemarahan itu disadari tanpa pusat diri (tidak melawan, tidak menilai, tidak mengharuskan dst) maka, kamu merasakan kemarahan tidak menimbulkan problem psikologis apapun. Bahkan kamu bisa menertawakan. Ia bagaikan angin lewat saja.
Di sinilah pentingnya membiasakan diri untuk melihat segala sesuatu dari titik keheningan atau batin yang kosong. Dari sini ada pemahaman lengkap dan muncul tindakan seketika dan tindakan itu pasti benar.
Pada moment apa Yesus mengosongkan diri? Saya melihat ada dua moment besar. Pertama saat inkarnasi: Yesus meninggalkan kehidupan dalam inti-keilahian dengan memasuki keadaan manusiawi. Kedua, saat di salib: Yesus menyerahkan diriNya atau nyawaNya secara definitif.
Selamat melanjutkan perjalananmu dalam keheningan.