”Mari dan ikutlah Aku”
Kalau kita membaca atau mendengar kata Sie Promosi Panggilan, pikiran kita langsung tertuju pada sosok atau figur imam, biarawan/wati. Terkadang kata ini membuat juga perasaan takut, tidak layak, tidak pantas di kalangan kaum muda. Bagi kaum orang tua ditanggapi dengan, “Kita memang perlu imam, biarawan/wati tapi jangan anak saya.” Mendengar suatu kisah dari seorang biarawan/wati mengenai sejarah panggilan mereka banyak yang mendapat tantangan hambatan dari keluarga mereka.
Kata ‘promosi panggilan’ mengesankan imej iklan/tawaran tentang panggilan. Dengan berjalannya waktu gereja gencar mengadakan promosi ini. Berbagai cara telah ditempuh dari cara sederhana hingga mengandalkan pemakaian alat bantu berupa internet. Promosi tidak hanya dengan brosur tentang tarekat namun juga muncul dalam bentuk selipan buku, notes, kalender saku dan sebagainya dengan mencantumkan nama dan alamat tarekat. Temu muka dengan kaum muda dan anak–anak dilakukan dalam bentuk outbond, olah raga bersama, kemping rohani, tea walk dan lain-lain.
Lewat evaluasi antar tarekat sendiri dirasakan perlu adanya partner kerja dari pihak awam juga. Oleh karena itu hampir di tiap paroki dibentuk Sie Promosi Panggilan yang beranggotakan umat yang ikut prihatin dan tertarik memikirkan perkembangan lahirnya panggilan baru menjadi imam, biarawan/wati.
Di Paroki Duren Sawit sudah terbentuk Sie Promosi Panggilan yang beranggotakan beberapa umat. Sie ini selain menyusun program kerja juga menjadi wadah bagi mereka yang ingin mengenal lebih jauh tentang panggilan membiara serta mendampingi mereka yang merasa tertarik untuk menjawab panggilan Tuhan dalam bentuk hidup selibat sebagai imam, biarawan/wati.
Kami mengundang dan mengajak umat untuk bekerja sama dalam program–program kerja yang telah dibuat. Program–program kerja ini lahir dari usulan umat sendiri melalui Dewan Paroki Pleno.
Tanpa dukungan Anda sekalian baik dalam bentuk doa maupun tindakan nyata, maka Sie Promosi Panggilan tidak akan berjalan. Sie ini lahir dari umat, digerakkan oleh umat dan akhirnya untuk kepentingan umat juga. Bagaimana bentuk gereja seandainya mulai tidak ada yang menjadi imam, biarawan/wati?? Adalah menjadi tanggung jawab kita sebagai anggota gereja, umat Allah yang sedang berziarah mencapai kesucian untuk kelak hidup bersama Sang Pencipta di surga.
Para imam, biarawan/wati lahir dari umat sendiri. Ada yang dulu aktif dalam kegiatan putera altar, anggota koor, lektor, Legio Maria, OMK dan lain-lain. Singkatnya, mereka dahulu umat biasa yang ikut terlibat dalam kegiatan gereja dan lebih mendalami lagi benih–benih panggilan yang tumbuh dari keluarga kristiani yang dalam kesehariannya mengadakan doa bersama dalam keluarga.
”Mari dan ikutlah Aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia,” maka mereka pun meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus (Mat. 4: 19, 20; Mrk. 1:17, 18).
Seorang murid bertanya pada Yesus, ”Rabi (guru) di manakah Engkau tinggal?” Jawab Yesus, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” (Yoh. 1: 38, 39).
Secara tidak langsung, satu bentuk promosi panggilan telah dibuat Yesus dengan mengajak, mengundang dan mengizinkan mereka melihat langsung kehidupan Yesus.
Maka Sie Promosi Panggilan mengundang umat baik kaum muda, anak–anak dan orang tua untuk ikut mensukseskan kegiatan di paroki kita ini.
Oleh: Sr. Rina T. MC
(Ketua Sie Promosi Panggilan Paroki)







Leave a Reply